Mengenal Kiai Bergelar Pahlawan (2): KH Idham Chalid

491 kali dibaca

Kiai Idham Chalid adalah satu-satunya tokoh Nahdatul Ulama (NU) dari Pulau Borneo yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Tidak hanya anugerah Pahlawan Nasional, Kiai Idham Chalid juga mendapatkan anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Hal ini menunjukkan kualitas maupun kontribusinya yang diakui oleh negara (tingkat nasional) maunpun di kancah internasional, yakni melalui salah satu universitas Islam yang menjadi sentra kajian Islam tingkat internasional.

Semasa hidupnya, Kiai Idham Chalid dengan arahan dari kedua orang tuanya mencurahkan pikiranya untuk fokus mencari ilmu, baik di sekolah formal maupun non formal, bahkan sampai merantu ke Pulau Jawa. Masa-masa yang penuh tantangan dan kegigihanya inilah yang membawa beliau ke pribadi yang bersahaja dan berwawasan keilmuan. Perjalanan hidupnya semata-mata dicurahkan untuk mencari kebermanfaatan bagi dirinya sendiri dan mengabdi di tengah-tengah masyarakat, baik dalam dakwah, organisasi, maupun politik.

Advertisements

Biografi

Baca juga:   Ziarah Makam Syekh Mahmud, Sahabat Nabi di Nusantara

Kiai Idham Chalid dilahirkan pada tanggal 5 Muharram 1341 H/ 27 Agustus 1922. di Satui, Kalimantan Selatan. Tetapi ada versi lain yang beredar, bahwa Kiai Idham Chalid lahir pada tanggal 5 Januari 1921, seperti yang dipakai Tempo dan beberapa media lain tatkala mencantumkan biografi tanggal lahir Kiai Idham. Akan tetapi, kebanyakan literatur ilmiah menuliskan kelahiran beliau adalah tanggal 27 Agustus 1922. Hal ini bisa dipahami bahwa pada masa tersebut pencatatan sipil, khususnya akta atau surat kelahiran belum cukup baik. Tidak berlebihan, hampir kebanyakan orang pada masa tersebut juga tidak terlalu konsen terhadap tanggal kelahiranya.

Baca juga:   Kiai Ujang dan Metode Dakwahnya

Kiai Idham lahir dalam keluarga yang taat dan paham akan ilmu agama. Ayahnya bernama Muhammad Chalid dan ibunya bernama Ummu Hani. Di daerahnya, ayah Kiai Idham adalah seorang penghulu dan guru ngaji. Maka, yang pertama kali mengajarkan mengenai tajwid, membaca Al-Qur’an, dan belajar huruf latin adalah ayahnya sendiri.

Pengajaran yang diberikan oleh ayahnya sedari dini ini yang menjadi fondasi wawasan dan kecerdasan Kiai Idham tatkala semakin bertambah usia. Hal ini terbukti ketika bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), Kiai Idham langsung dimasukkan ke kelas II, karena sudah menguasai dasar-dasar, bahkan sudah cukup baik kemampuanya dalam baca tulis huruf latin.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan