Membumikan Multiklturalisme Abad Kedua NU

682 kali dibaca

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi muslim terbesar di Indonesia yang berdiri pada tahun 1926. Organisasi ini telah berkembang selama satu abad dan menjadi salah satu pemain penting dalam dunia keagamaan dan politik di Indonesia. Tahun ini NU memasuki abad kedua yang diharapkan menjadi momentum titik balik kebangkitan NU sebagai organisasi keagamaan Indonesia.

NU mengalami berbagai tantangan dan perubahan. Tantangan NU, yaitu harus menjaga eksistensi dirinya sebagai organisasi sosial keagamaan. NU juga mengalami gempuran gelombang politik, kesenjangan sosial hingga radikalisme. Sebagai organisasi keagamaan yang eksis hingga saat ini, harapan besar perjalanan NU di abad keduanya tetap sebagai trendsetter dan top of mind pilihan masyarakat.

Advertisements

Bagaimana eksistensi NU di era mutakhir? Bagaimana peran dan strategi NU dalam menghadapi perubahan global? NU berperan besar dalam pembangunan Indonesia. Sebut saja peran NU dalam dunia keagamaan. NU telah menyebarluaskan pemahaman Islam yang moderat dan toleran melalui pendidikan, dakwah, dan pengajian.

NU juga telah menjadi pemain penting dalam kancah politik dan telah memberikan pengaruh pada pemerintahan di Indonesia. NU juga telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang menjadi rujukan bagi umat Islam di Indonesia. Banyak tokoh-tokoh politik lahir dari NU. Salah satunya adalah tokoh penggagas multikultural Indonesia, KH Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil Gus Dur.

Sudah menjadi keniscayaan Indonesia merupakan negara dengan jumlah suku, ras, budaya terbanyak di dunia. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan terdapat 1331 suku, 652 bahasa, dan budaya yang beragam tumbuh di masyarakat. Ditambah jumlah agama dan golongan, kelompok, aliran agama yang terus bertambah jumlahnya. Sehingga, Indonesia dikenal dengan negara majemuk.

Kemajemukkan tersebut akan menjadi kekayaan yang berharga apabila dipayungi dengan nilai ketuhanan dan ruang integritas. Namun, sejak kemerdekaan hingga sekarang lebih banyak memunculkan narasi yang berujung konflik. Konsep pluralisme dirasa kurang cukup untuk meminimalisir konflik yang berkepanjangan. Sehingga perlu konsep pemikiran yang lebih besar, yaitu melalui pendidikan multikulturalisme.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan