Biografi Kipas Angin

1,307 kali dibaca

Kipas angin di samping ranjang bergerak-gerak ke arah kanan dan kiri, mengirim angin ke seluruh ruangan. Suaranya bergemuruh, seperti larut dalam sebuah percakapan dengan detak jarum jam di dinding kamar. Keduanya sama-sama berperang melawan kesenyapan malam. Angin dari kipas itu menderas ke arah gorden hingga tersingkap-tertutup seterusnya membuat bulan sabit terlihat dari kaca jendela, menggoyang-goyang gelas karet tempat pensil dan spidol, menyingkap lembar-lembar buku, menerbangkan kertas dan benda ringan lainnya.

Jika arah putarnya kebetulan lurus ke arahku, rambutku terurai berantakan menyampiri wajah dan telinga, sebelum akhirnya menyerbu leher bagai wadah es ditempelkan pada kulit. Aku menggigil. Kulihat empat tombol pengatur kecepatan di tangkai kipas itu. Tombol angka 1 tertekan, itu sudah yang paling pelan, sebab di bawahnya sudah tombol off/on yang seandainya dipencet membuat kipas itu henti berputar.

Advertisements

Ibel—yang tidur di tengah-tengah antara aku dan istriku—terlihat sangat nyenyak. Bagai ashabul kahfi yang merindukan silir angin setelah ratusan tahun tertidur di dalam gua. Rambut tipisnya bergoyang oleh desir angin, sesekali terdengar mengorok, seakan sengaja belajar pada gemuruh kipas. Jika kipas itu kumatiakan, atau kunyalakan dalam keadaan diam tak begerak ke kanan dan ke kiri, maka Ibel akan gerah, ia akan bangun dengan sendirinya setelah menggeliat sambil menangis, peluh bertabur di keningnya. Itulah sebabnya kuabaikan kipas itu bergerak terus, mengirim angin ke seluruh ruangan, meski aku sendiri sebenarnya sangat tidak nyaman dengan kipas itu.

Melihat Ibel tidur nyenyak aku sangat bahagia.

Kebahagiaanku melihat Ibel tidur nyenyak melebihi ketidaknyamananku disembur angin. Maka kubiarkan kipas itu berputar dan bergerak demi Ibel, walaupun tak ada yang tahu bahwa angin yang merayapi tubuhku saat tidur akan menyeret dua kenangan ganjil dalam hidupku.

***

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan