Membaca Ulang Ekologi Pesantren

865 kali dibaca

Interaksi antar-sesama dan lingkungan sekitar adalah satu sikap dasar manusia sebagai makhluk sosial. Hal ini menjadi salah satu ciri dari ekologi itu sendiri. Di mana, cabang pengetahuan dari biologi ini adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana interaksi antar-sesama, pun dengan lingkungan sekitar.

Seperti halnya pemahaman tentang konsep saling membutuhkan satu dengan yang lain, manusia adalah makhluk yang memiliki keseimbangan daya dan pikiran, saling menopang antara yang satu dengan lainnya. Hal ini tergambar pada bagaimana konteks sosial yang dibangun dalam sebuah wilayah. Budaya dan tradisi yang berkembang adalah bentuk dari keseimbangan daya dan pikiran tersebut.

Advertisements

Pesantren, seperti halnya disebut dalam tulisan sebelumnya, di samping sebagai “the great traditional education” juga sebagai sebuah wadah untuk mendayagunakan siklus sosial dalam ruang yang lebih kecil, kemudian dipraktikkan dalam ruang yang lebih besar. Pesantren di setiap daerah memiliki nama yang berbeda-beda, pun menjadi pusat pembelajaran tentang Islam dan budaya.

Baca juga:   Kiai dan Teologi Tanah (3): Logam Tanah Jarang

Liow dalam Hamid dalam Woodward and Yayah; 2009 menegaskan bahwa “Throughout the region they are centers of muslim education and culture. In Indonesia, the term santri is used to refer to observant muslims in a general sense, but its core meaning is muslim student.”

Pada konteks ini, santri sebagai warga pesantren menjadi subjek sekaligus objek untuk melatih ekologinya dalam membangun peradaban sosial budaya dan keberagamaan di masa mendatang. Hal yang paling mudah ditemukan dewasa ini adalah fenomena kelas social dalam konteks warga pesantren. Bahwa jika sudah memiliki madrasah atau pesantren, maka akan terbangun sekat secara otomatis dalam hubungan sosialnya. Hal ini justru berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan oleh Gus Dur, di mana pesantren adalah pusat sistem subkultur. Artinya, dalam konteks budaya Jawa (baca: Nusantara), pesantren adalah ruang yang bebas bagi siapa pun, jika ada kiai sebagai pusat kurikulumnya, itu adalah bagian dari sistem, tetapi jika harus ada sekat sosial yang membatasinya, maka tidak sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Gus Dur (“Pesantren System as the Core of a Javanese Subculture”, Abdurrahman Wahid 1974:40-47).

Baca juga:   Menolak Wahabisme

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan