duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Aroma siur air laut meriap menusuk hidungku yang sedari tadi melamun di dermaga menunggu perahu-perahu kecil membawa ikan. Aku juga akan menunggu matahari tenggelam tanpa alasan, tanpa waktu yang ditentukan. Jika aku lelah, aku akan kembali, namun jika masih betah, aku akan tetap di sini.

Baca Juga:   Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer

Paling nyaman adalah merasakan desiran angin dan memandang laut yang biru, merasakan aroma amis, asin ikan-ikan para nelayan. Sudah beberapa tahun berada di wilayah Pantura, membuat aku akrab dengan aroma-aroma seperti ini.

Advertisements
Cak Tarno

Aku melihat puluhan perahu-perahu kecil tertambat di pantai. Senja kemerahan menggantung di langit sebelah barat. Para nelayan akan pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara ombak kecil saling berkejaran menghantam bebatuan dan perahu-perahu nelayan yang terombang-ambing.

Baca Juga:   Earning Rewards by Writing a Story

Di tempat inilah kisah dimulai. Ya, tempat ini adalah tempat bersejarah. Kata masyarakat sekitar, di tempat inilah Mbah Banjar terdampar akibat terempas badai. Perahunya hancur akibat badai, tubuhnya terempas ombak besar, kemudian terdampar di Desa Jelaq.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan