Melindungi Santri dari Kejahatan Seksual

227 kali dibaca

Pondok pesantren di Indonesia tidak henti-hentinya dirundung masalah. Belum tuntas urusan tentang bullying (perundungan fisik dan psikis), sekarang muncul isu tentang kekerasan seksual pada santri, yang ternyata dilakukan oleh pengasuh atau orang yang memiliki power di tempat itu.

Seperti pada isu dipertengahan tahun 2022, mencuat kasus pencabulan oleh putra kiai Pondok Pesantren As-Sidqiyah Jombang kepada lima santriwatinya (https://surabaya.liputan6.com, 8/7/2022). Tidak lama berselang muncul berita putusan pengadilan terhadap salah satu kiai pondok pesantren di Lumajang yang telah mengakui bahwa mencabuli tiga santrinya yang masih di bawah umur (https://surabaya.kompas.com, 5/10/2022). Dan, baru-baru ini, memasuki awal tahun 2023, juga mencuat berita tentang seorang pengasuh di salah satu pondok pesantren di Jember diduga melakukan pencabulan pada sejumlah santri dan saat ini sedang dalam proses penyidikan (https://radarjember.jawapos.com, 9/1/2023).

Advertisements

Miris bukan? Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama, yang selalu menekankan moral keagamaan, tempat mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, bahkan mangamalkan ajaran Islam menjadi tempat bersarangnya para predator seksual (orang yang melakukan tindak kejahatan seksual). Beberapa kasus yang terjadi dilakukan oleh orang-orang yang punya kuasa di lingkungan pondok pesantren.

Baca juga:   Dicari, Masjid Ramah Musafir

Bukankah orang tua memiliki niat yang mulia untuk mengantarkan putra putrinya mengaji, memperdalam ilmu agama di pesantren? Bahkan orang tua memiliki pilihan terbaik dengan menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah umum yang berada dalam lingkungan pesantren. Mereka memiliki harapan tinggi, agar anaknya tidak hanya mendapatkan pengetahuan umum saja, namun juga diimbangi dengan pengetahuan agama sehingga kelak tampil sebagai pribadi dengan akhlak yang mulia. Namun nyatanya malah menjadi korban kejahatan para oknum. Sehingga muncul opini di lingkungan masyarakat, bahwa pesantren pun bukanlah tempat yang aman bagi santri.

Baca juga:   Relasi Agama dan Negara: Perspektif Gus Dur

Peristiwa yang menimpa pada para korban pelecehan dan tindakan kekerasan seksual tentu memiliki dampak yang besar. Korban, yang dalam hal ini santri, akan mengalami trauma mendalam bahkan kecemasan akan masa depannya. Bagaimana tidak? Kehidupan mereka akan selalu diselimuti oleh ketakutan, kekhawatiran, dan perasaan malu yang terus menerus.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan