Maulid Nabi

1.869 kali dibaca

Hadits itu hanya berbunyi: man a’dzoma maulidy dakholal jannah (Barang siapa yang menghormati [hari] kelahiranku, maka ia akan masuk surga). Begitu besar balasan menghormati hari kelahiran Nabi Muhammad. Jika janji itu benar, bayangkan hanya dengan menghormati hari kelahiran saja, kita dapat voucer masuk surga (tujuan dan impian setiap muslim di hari akhir). Belum lagi kita dapat mengimajinasi, karena sering diajari sejak kecil, bagaimana enaknya hidup di surga: ada sungai susu, bidadari cantik, istana pribadi yang mewah, dan sebagainya. Semua itu bisa kita “barter” dengan mengadakan perayaan maulid, misalnya.

Mengomentari hadits itu, seorang teman dari Pesantren Darul Hikam Kediri, Jawa Timur, berseloroh: “Wah, kalau begitu, setiap bulan rabiul awal, Tuhan mengobral murah dan membanting harga surga”. Sebuah komentar yang meski rasional, tetapi sulit di-iya-kan. Memangnya, Tuhan berdagang? Tetapi, kata bijak Arab menegaskan: al-Ajru bi qadri al-ta’ab (upah dan pahala tergantung kualitas dan kuantitas usaha dan susah payah). Salat jamaah ke masjid saja, semakin jauh dan berliku jalannya, semakin besar pahalanya, ungkap kitab-kitab fiqh. Bukankah ini logika berdagang?

Advertisements

Coba bayangkan, kalau hadits di atas kita artikan secara harfiah, setiap presiden Indonesia, wapresnya, dan para menteri akan masuk surga, karena secara rutin merayakan Maulid Nabi di Istana Merdeka. Demikian pula setiap Sultan di Yogyakarta dan Cirebon yang selalu menyelenggarakan sekaten di bulan maulid. Bahkan, tak terkecuali pemirsa televisi dan pengunjung sekaten, termasuk pada pedagangnya yang menyesaki alun-alun.

Baca juga:   Pantulan Kebhinekaan di Desa (3): “Resik Kubur” di Kalikudi

Itulah masalahnya. Nabi sendiri tak menjelaskan secara difinitif apa artinya menghormati, mengagungkan, dan merayakan. Seolah – atau memang sebenarnya – Nabi mempersilakan kepada umatnya untuk menerjemahkan sendiri-sendiri sesuai dengan sosio-kultural masing-masing. Yang terpenting adalah niat suci, ikhlas, dan melakukan dengan khusyu’ (rendah hati), tafakkur (kritis), dan tadabbur (kontemplatif). Di Arab sendiri, tradisi memperingati hari lahir, haflat liyaumi al-millad baru muncul ketika bangsa Arab telah berinteraksi langsung dengan dua bangsa dan budaya besar, Parsi dan Romawi. Tak ada bukti yang memperlihatkan bahwa di masa Nabi maupun khulafaurrasyidin peringatan hari lahir Nabi dalam bentuk perayaan dan sejenisnya terselenggara.

Baca juga:   Membongkar Wacana Hegemonik Pesantren

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan