Masalah Mereka, Masalah Kita Juga…

734 kali dibaca

Masih hangat terasa di benak kita permasalahan orang tua dari anak SD yang memarahi pegawai Indomaret, karena sang anak yang masih dibawah umur melakukan top up games. Kemudian oleh Mukhlisin diulas lebih jelas lagi dalam sebuah artikel dengan judul “Mereka Anak-anak Kita Juga…”.

Sebuah artikel sosial kemanusiaan tekait dengan kesadaran orang tua atau orang dewasa untuk turut serta membantu mengarahkan kebaikan kepada anak-anak di sekitar kita. Top up games hingga Rp 800 ribu oleh seorang anak yang masih di bawah umur merupakan sebuah ketidakwajaran, sehingga mereka yang dianggap dewasa (tamyis, dalam bahasa agama) berkewajiban turut serta mempertanyakan keabsahan transaksi tersebut. Lebih jauh silakan baca artikel tersebut di https://www.duniasantri.co/mereka-anak-anak-kita-juga/.

Advertisements

Isu yang trending lainnya saat ini dan masih tekait dengan kebersamaan hidup kita adalah masalah Palestina. Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia ini mengalami tragedi kemanusiaan. Zionis Israel melancarkan serangan dalam bentuk fisik berupa penyerangan membabi buta, bahkan terhadap rakyat sipil yang tidak berdosa. Terhadap hakikat penjajahan ini masih saja terjadi pro-kontra di antara kita dengan ragam maksud dan tujuannya, bahkan meskipun telah menewaskan ratusan rakyat sipil hingga anak-anak yang masih balita.

Salah satu statemen yang menimbulkan gejolak, polemik, dan kekisruhan adalah apa yang dilontarkan oleh AM Hendropriyono. Mantan Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) ini mengatakan, “Palestina dan Israel bukan urusan Indonesia, melainkan urusan bangsa Arab dan Yahudi. Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita,” tegas AM Hendropriyono di Jakarta, Selasa (18/5/2021).

Ungkapan mantan Kepala BIN disoroti oleh Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Tamrin Amal Tomagola, yang mengatakan bahwa urusan Palestina adalah urusan kemanusiaan, artinya urusan kita semua. Karena —masih menurut Tamrin Tomagola— kita adalah manusia yang memiliki sisi rasa kemanusiaan. Maka kita semua wajar merasakan penderitaan rakyat Palestina yang diserang secara bengis oleh tentara Israel.

“Karena banyak dari kami masih manusia yang punya rasa kemanusiaan, maka kami ikut merasakan betapa kejamnya rakyat Palestina diperlakukan,” kata Tamrin Tomagola pada Rabu, 19 Mei 2021, sebagaimana dilansir dari law-justice.co.

Kecuali terhadap manusia yang tidak punya rasa kemanusiaan, Guru Besar UI ini tidak mengajak kepada manusia yang bukan manusia. Tetapi, mengajak kepada manusia yang mempunyai hati nurani kemanusiaan, untuk turut merasakan penderitaan rakyat Palestina.

Sesuai dengan amanat UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu, maka setiap bentuk penjajahan (baik fisik atau fisikis) harus dihapuskan dan dienyahkan dari muka bumi. Di atas dunia ini, yang dihuni oleh berbagai macam suku bangsa dengan kultur yang berbeda-beda, harus hidup rukun, seirama, dan menjaga kesejukan dalam kehidupan. Bantu membantu, bahu membahu untuk kemaslahatan hidup dan terhindar dari berbagai tindakan separatis yang melanggar HAM.

Dalam Al-Quran Allah berfirman, “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin Tuhan mereka.” (Q.S. Ibrahim: 1). Penegasan ayat ini dari “kegelapan”, artinya dari segala bentuk penindasan dan kezaliman serta kebodohan, menuju “cahaya”, yaitu kemerdekaan, kemaslahatan, dan kemakmuran.

Sementara itu, politikus Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana, ikut serta merespons pernyataan dari Jenderal (Purn) AM Hendropriyono yang mengatakan konflik Palestina-Israel bukan urusan Indonesia. Cipta Panca Laksana mengatakan bahwa bahwa AM Hendropriyono selama ini selalu mengungkapkan hal yang bernuansa Islamophobia.

“Jenderal tua sisa orba ini lama-lama kebuka juga jati dirinya, yang merancang Islamophobia belakangan ini. Yang membuat kohesi sosial kita retak. Iya nga sih?” kata Hinca dikutip akun Twitter-nya, Kamis (20/5/2021).

Senada dengan Cipta Panca Laksana, sekretaris umum Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa pernyataan Hendropriyono tidak mencerminkan seorang negarawan. Sebab UUD 45 sudah sangat jelas bahwa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan di dunia. “…oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.”

Jadi sudah menjadi kewajiban kita semua bahwa jika terjadi bentuk penjajahan dan atau penindasan oleh suatu negara kepada negara lainnya, maka kita harus merasakan bentuk penderitaan itu dan berupaya untuk menghentikannya. Sebab kita hidup di dunia ini senyatanya adalah satu saudara, jika saudara kita merasakan sakit, maka kita harus turut prihatin dan berusaha membantu.

Hal ini juga terdapat dalam firman Tuhan. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujarat: 10).

Ikut prihatin dan merasakan penderitaan rakyat Palestina merupakan nilai sosial yang harus kita junjung tinggi. Setidaknya, tidak perlu mengeluarkan ungkapan atau ucapan-ucapan yang justru menimbulkan rasa tidak simpati. Sebab setiap manusia memiliki masalahnya sendiri yang harus diselesaikan dengan cara dibantu oleh orang lain dengan cara yang makruf dan berakhlak mulia. Wallahu A’lam!

Multi-Page

Tinggalkan Balasan