Harusnya Kita Mencontoh Israel

371 kali dibaca

Palestina sejenak bisa bernapas lega atas gencatan senjata yang dilakukan Israel setelah perang yang berlangsung sebelas hari hingga menewaskan puluhan bahkan ratusan rakyat Palestina. Berbagai gerakan dilakukan oleh masyarakat dunia untuk bersimpati kepada rakyat Palestina. Bahkan donasi mengalir dari berbagai negara. Tak terkecuali Indonesia.

Semua orang di seluruh dunia mengecam kekejaman Zionis yang tanpa perasaan meluncurkan bom ke permukiman penduduk. Ini menyebabkan para wanita dan anak-anak ikut menjadi korban karena bom meledak tanpa memandang gender.

Advertisements

Israel seolah tidak membiarkan para wanita melahirkan generasi penerus dan anak-anak tumbuh dewasa hingga bisa membalas perlakuan mereka. Rakyat Palestina semakin terdesak karena Israel terus memperluas wilayahnya. Mengusir rakyat Palestina secara perlahan hingga mereka dapat menduduki Masjidil Aqsha, tempat yang disucikan baik bagi umat Islam maupun Yahudi.

Baca juga:   Pesantren dan Isu Gender

Terlepas dari kekejaman yang terus dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina, ada sisi-sisi lain yang membanggakan dan mungkin membuat kita segan untuk mengakuinya. Salah satunya tentang kuatnya budaya membaca masyarakat Israel. Seperti dilansir oleh Israel Chamber of Commerce of the Philippines, di saat remaja kita lebih memilih rebahan bersama ponsel pintarnya, Israel malah sudah menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling banyak menerjemahkan buku dari berbagai bahasa di dunia. Tingkat melek literasi yang tinggi membuat negara ini memiliki 24% angkatan kerja bergelar sarjana dan 12% dengan gelar lanjutan. Prestasi tersebut menempatkannya pada peringkat ketiga dalam dunia industri setelah Amerika Serikat (AS) dan Belanda.

Baca juga:   Hinakah Islam Dihina?

Bahkan wanita-wanita hamil di negara ini akan memilih untuk menyelesaikan berbagai soal matematika yang rumit bersama suaminya daripada sekadar berjalan-jalan di taman ataupun pusat perbelanjaan. Keterkaitan antara ibu dan anak dalam masa kehamilan menjadi alasan mereka untuk mendapatkan generasi yang cerdas dalam ilmu eksak.

Fakta lain yang dapat dibanggakan dari negara dengan lambang bintang Daud ini adalah kepemimpinannya dalam jumlah teknisi dan ilmuan terbesar di dunia. Dalam setiap 10 ribu pekerja di negara ini, 145 di antaranya adalah ilmuwan dan teknisi. Angka tersebut jauh lebih banyak dari AS yang hanya 85 orang, disusul Jepang dengan 70 orang dan Jerman 60 orang.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan