Idul Fitri dan Tradisi Kupatan

1,318 kali dibaca

Tidak terasa kita sudah memasuki hari ketujuh di bulan Syawal ini. Hari berlalu begitu cepat dengan berbagai kesibukan serta kegiatan Idul Fitri yang tidak lekang membersamai umat Islam. Salah satu tradisi yang menurun dan terus dilestarikan sampai saat ini adalah kupatan, tradisi membuat ketupat. Ada yang sudah menyajikan masakan penganan ketupat di hari pertama Idul Fitri, ada juga yang di hari kedua, ketiga, dan seterusnya.

Di tempat saya sendiri, memasak ketupat akan dilakukan setelah memasuki hari ketujuh di bulan Syawal. Para wanita akan memasak ketupat di sore atau malam hari untuk kemudian besoknya dibawa ke masjid oleh kaum laki-laki. Ketupat biasanya disajikan dengan sayur lodeh atau dengan opor ayam yang khas. Di masjid, seorang kiai memimpin berdoa dan kemudian mereka saling bertukar ketupat serta masakan sayurnya.

Advertisements

Tradisi ini begitu khas dan tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Jawa khususnya dan umat Islam pada umumnya. Namun sebenarnya bagaimana asal usul ketupat ini dan mengapa ketupat menjadi hidangan khas Idul Fitri?

Sebenarnya, ketupat sendiri sudah ada dan membersamai masyarakat Jawa kuno pada zaman dahulu. Namun pada zaman sebelum Islam datang, ketupat menjadi simbol mistis yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa yang masih kental dengan berbagai tradisi dan kepercayaan animisme serta dinamisme. Masyarakat Jawa zaman kuno biasa menggantungkan ketupat di depan pintu rumah mereka karena dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.

Dan seiring berjalannya waktu, Islam datang dan mengena di hati masyarakat Nusantara. Pada saat itu Sunan Kalijaga yang sedang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah menggunakan tradisi ketupat ini untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah menerima dan mengingat ajaran agama Islam dengan akulturasi antara budaya lokal dengan agama Islam yang akan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan