Idul Fitri dan Tradisi Kupatan

1,319 kali dibaca

Tidak terasa kita sudah memasuki hari ketujuh di bulan Syawal ini. Hari berlalu begitu cepat dengan berbagai kesibukan serta kegiatan Idul Fitri yang tidak lekang membersamai umat Islam. Salah satu tradisi yang menurun dan terus dilestarikan sampai saat ini adalah kupatan, tradisi membuat ketupat. Ada yang sudah menyajikan masakan penganan ketupat di hari pertama Idul Fitri, ada juga yang di hari kedua, ketiga, dan seterusnya.

Di tempat saya sendiri, memasak ketupat akan dilakukan setelah memasuki hari ketujuh di bulan Syawal. Para wanita akan memasak ketupat di sore atau malam hari untuk kemudian besoknya dibawa ke masjid oleh kaum laki-laki. Ketupat biasanya disajikan dengan sayur lodeh atau dengan opor ayam yang khas. Di masjid, seorang kiai memimpin berdoa dan kemudian mereka saling bertukar ketupat serta masakan sayurnya.

Advertisements

Tradisi ini begitu khas dan tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Jawa khususnya dan umat Islam pada umumnya. Namun sebenarnya bagaimana asal usul ketupat ini dan mengapa ketupat menjadi hidangan khas Idul Fitri?

Sebenarnya, ketupat sendiri sudah ada dan membersamai masyarakat Jawa kuno pada zaman dahulu. Namun pada zaman sebelum Islam datang, ketupat menjadi simbol mistis yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa yang masih kental dengan berbagai tradisi dan kepercayaan animisme serta dinamisme. Masyarakat Jawa zaman kuno biasa menggantungkan ketupat di depan pintu rumah mereka karena dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.

Dan seiring berjalannya waktu, Islam datang dan mengena di hati masyarakat Nusantara. Pada saat itu Sunan Kalijaga yang sedang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah menggunakan tradisi ketupat ini untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah menerima dan mengingat ajaran agama Islam dengan akulturasi antara budaya lokal dengan agama Islam yang akan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki filosofi yang sangat dalam. Bentuk belah ketupat ini dilambangkan sebagai perwujudan kiblat papat. Maksudnya, sebagai keseimbangan alam dalam empat arah mata angin utama, yakni timur, selatan, barat, dan utara. Meskipun memiliki empat arah, namun hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat ini diasumsikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki manusia. Empat nafsu tersebut dapat dikalahkan dengan berpuasa.

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran yang selalu menjadi hidangan khas hari raya ini tidak hanya dimaknai sebagai hidangan makanan saja. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Ngaku lepat ini bagian dari tradisi sungkeman yang menjadi implementasi mengakui kesalahan bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman dengan cara bersimpuh di hadapan orang tua dengan memohon ampun, dan ini masih membudidaya hingga kini. Tradisi sungkeman ini mengajarkan akan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan, dan ampunan dari orang lain, khususnya orang tua.

Dengan tradisi ketupat ini, masyarakat Islam di Jawa khususnya mempunyai nilai tersendiri dalam memaknai Idul Fitri. Mereka berkumpul dengan keluarga lalu melakukan halal bihalal atau tradisi maaf-maafan. Banyak di antara mereka yang menangis karena mengingat kesalahan dan dosa kepada orang tua atau bahkan mereka mengenang seseorang yang sudah pergi dahulu ke pangkuan sang Ilahi.

Namun pada Idul Fitri tahun ini, tidak banyak yang bisa kita lakukan karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Kadang kita hanya bisa melakukan halal bihalal secara virtual untuk sekadar melepas rindu dan saling memaafkan serta meminta maaf. Namun hal ini tidak mengurangi nilai positif yang membudaya dalam merayakan Idul Fitri. Semoga dunia lekas membaik.

Wallahua’am bisshawab.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan