MALAM TIRAKATAN

Jangan dibuka, belum waktunya

Udara kembali beredar
semua tertawa bersama debar.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tulungagung, 2021.

SANTRI

/1/
Dengan sampan bersirip tegar
dan angin yang meniupkan sabar

/2/

Mereka mantab menyalakan Qobiltu
kepada waktu dan rindu
supaya teguh berlayar
mengikuti jejak camar

/3/

Di laut yang airnya bening
dalam kitab kuning
cahaya tembus ke dasar
ilmu pengetahuan memancar:
Seperti zam-zam
di bawah kaki Ismail
dan risalah Islam
di tangan sang Kafil[1]

/4/

Sesungguhnya mereka
menahan lapar dan gemetar
sesungguhnya mereka
menahan benturan
sesungguhnya mereka
menahan kesakitan
Sesungguhnya
Mereka
menang
tapi belum sadar
Hingga isyarat kiai tiba
satu per satu dari mereka
sampai di pulau barakah.

Baca Juga:   Kemuliaan Ibu dalam Islam

Tulungagung, 2021.

KIAI

Di antara pantulan bulan dan keprihatinan
kedua matanya senantiasa tak pernah tenggelam
di laut malam, ia menjaring perhatian Tuhan:
bekal kami melanjutkan kehidupan.

Ia bukan raja, tapi berkuasa dan mulia
Ia tak punya istana, hanya surau sederhana
Ia pakar segala, tapi tawadhu’ luar biasa
Ia tak pernah pura-pura saat sedih atau bungah
selalu bahagia tapi tanpa tawa
selalu lelah tapi tanpa air mata.

Baca Juga:   Jilbab dan Kontroversinya

Seperti seorang Musa al Kalam
diam-diam ia memecah gelombang
dan berusaha menanam benih Salam.

Bagaimanapun Ia nyaris seperti pena
yang penuh dengan tinta, dan kami adalah
sebuah puisi yang digubah
hingga sempurna.

Tulungagung, 2021.

[1] Asma Nabi dalam dalail khairat ke 129, Al Kafil: yang menjamin.

Tinggalkan Balasan