MALAM TIRAKATAN

98 kali dibaca

MALAM TIRAKATAN

Suara itu keluar tidak dari mulutnya
melainkan dari getaran kerinduan
tanah gersang kepada hujan
daun-daun kepada desir angin
yang menerjemahkan pertemuan

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ia lebih memilih duduk sendiri di sudut kamar
tengah malam di balik pintu, ia meramal hari dan kabar
dengan merapal ijazah kiai, membersihkan sarang
laba-laba di sudut hatinya, supaya tetap tenang dan terang,
sebagaimana samudera di bawah purnama.

Tulungagung, 2021.

TABIAT WAKTU

/1/

Dengan suara tangis, seorang bayi
meraba-raba gema yang tak henti-henti
di kedalaman dada bapak-ibunya
sebagaimana gemuruh petir di padang savana
yang berusaha menyampaikan salam langit pada dunia

/2/

Di pelukan ibunya, ia menikmati irama
lagu-lagu lama, hingga membawanya
ke altar yang luas tanpa cahaya

“Ingatla Aku, maka kau
bersamaKu setiap waktu”

/3/

Keteduhan dan semilir angin
menaunginya dari musim ke musim
seperti Muhammad didekap pohon sahabi

“Ingatlah Aku, maka kau
bersamaKu setiap waktu”

Suara itu datang lagi, berputar-putar seperti gasing
yang berkali-kali dilemparkan ke telinganya
hingga ia hafal dan tak lagi asing
menjelma adzan dan iqamah

/4/

Waktu memang tak berwujud
Dia, pun juga tidak, meski Ia menyebutkan alamat
sebuah tempat di antara dua urat, sangat dekat
sebagaimana sekarang dan kemarin dan mendatang
kehidupan dan kematian.

Begitulah tabiat waktu
sekali seseorang jadi dewasa
maka ia akan tahu
tapi tak semua orang tua jadi dewasa,
seperti anak-anak rindu yang menginginkan temu.

Di ruang tamu, ibu tabah menunggu
di beranda, sesungguhnya bapak
bernegosiasi dengan jarak.

/5/

Sebelum mereka bersekutu dengan surga
aku ingin mengingatkan sebuah kelakar
saat itu, hujan, di ruang persalinan
bapak-ibu mencuci kesabaran
aroma kematianku mengoar
ke sudut-sudut ruangan
mereka pasrah seperti pintu
tetapi pintu ditutup waktu

Jangan dibuka, belum waktunya

Udara kembali beredar
semua tertawa bersama debar.

Tulungagung, 2021.

SANTRI

/1/
Dengan sampan bersirip tegar
dan angin yang meniupkan sabar

/2/

Mereka mantab menyalakan Qobiltu
kepada waktu dan rindu
supaya teguh berlayar
mengikuti jejak camar

/3/

Di laut yang airnya bening
dalam kitab kuning
cahaya tembus ke dasar
ilmu pengetahuan memancar:
Seperti zam-zam
di bawah kaki Ismail
dan risalah Islam
di tangan sang Kafil[1]

/4/

Sesungguhnya mereka
menahan lapar dan gemetar
sesungguhnya mereka
menahan benturan
sesungguhnya mereka
menahan kesakitan
Sesungguhnya
Mereka
menang
tapi belum sadar
Hingga isyarat kiai tiba
satu per satu dari mereka
sampai di pulau barakah.

Tulungagung, 2021.

KIAI

Di antara pantulan bulan dan keprihatinan
kedua matanya senantiasa tak pernah tenggelam
di laut malam, ia menjaring perhatian Tuhan:
bekal kami melanjutkan kehidupan.

Ia bukan raja, tapi berkuasa dan mulia
Ia tak punya istana, hanya surau sederhana
Ia pakar segala, tapi tawadhu’ luar biasa
Ia tak pernah pura-pura saat sedih atau bungah
selalu bahagia tapi tanpa tawa
selalu lelah tapi tanpa air mata.

Seperti seorang Musa al Kalam
diam-diam ia memecah gelombang
dan berusaha menanam benih Salam.

Bagaimanapun Ia nyaris seperti pena
yang penuh dengan tinta, dan kami adalah
sebuah puisi yang digubah
hingga sempurna.

Tulungagung, 2021.

[1] Asma Nabi dalam dalail khairat ke 129, Al Kafil: yang menjamin.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan