MALAM TIRAKATAN

MALAM TIRAKATAN

Suara itu keluar tidak dari mulutnya
melainkan dari getaran kerinduan
tanah gersang kepada hujan
daun-daun kepada desir angin
yang menerjemahkan pertemuan

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ia lebih memilih duduk sendiri di sudut kamar
tengah malam di balik pintu, ia meramal hari dan kabar
dengan merapal ijazah kiai, membersihkan sarang
laba-laba di sudut hatinya, supaya tetap tenang dan terang,
sebagaimana samudera di bawah purnama.

Tulungagung, 2021.

TABIAT WAKTU

/1/

Dengan suara tangis, seorang bayi
meraba-raba gema yang tak henti-henti
di kedalaman dada bapak-ibunya
sebagaimana gemuruh petir di padang savana
yang berusaha menyampaikan salam langit pada dunia

Baca Juga:   Ma Jian: Kiprah Ilmuwan Muslim di Negeri Komunis

/2/

Di pelukan ibunya, ia menikmati irama
lagu-lagu lama, hingga membawanya
ke altar yang luas tanpa cahaya

“Ingatla Aku, maka kau
bersamaKu setiap waktu”

/3/

Keteduhan dan semilir angin
menaunginya dari musim ke musim
seperti Muhammad didekap pohon sahabi

“Ingatlah Aku, maka kau
bersamaKu setiap waktu”

Suara itu datang lagi, berputar-putar seperti gasing
yang berkali-kali dilemparkan ke telinganya
hingga ia hafal dan tak lagi asing
menjelma adzan dan iqamah

Baca Juga:   Mengapa Kita Perlu Tersenyum?

/4/

Waktu memang tak berwujud
Dia, pun juga tidak, meski Ia menyebutkan alamat
sebuah tempat di antara dua urat, sangat dekat
sebagaimana sekarang dan kemarin dan mendatang
kehidupan dan kematian.

Begitulah tabiat waktu
sekali seseorang jadi dewasa
maka ia akan tahu
tapi tak semua orang tua jadi dewasa,
seperti anak-anak rindu yang menginginkan temu.

Di ruang tamu, ibu tabah menunggu
di beranda, sesungguhnya bapak
bernegosiasi dengan jarak.

/5/

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan