Lukisan Samsul

310 kali dibaca

Cahaya bulan tepat menerangi selembar kanvas yang masih bergelut dengan tangan keriput milik pria tua di teras sebuah sanggar. Lebih dari tiga belas tahun Samsul menghabiskan waktunya di sanggar itu. Meski bola matanya mulai kelabu dan cekung semakin dalam, ia belum ingin berhenti melukis, barangkali tidak akan pernah. Semilir angin yang menggigit malam itu membuat dadanya berguncang. Terbatuk-batuk.

“Bapak lebih baik istirahat.” Raka, pekerja muda yang setia menemani, menghampirinya. Ia cepat menggeleng sembari menutup mulut dengan kerah baju. Untungnya, batuknya lekas mereda.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Jam kerjamu kan sudah selesai, pulanglah. Kenapa masih di sini?” timpalnya.

“Mau nginep saja, Pak,” ujar Raka memijat pundaknya.

“Memangnya nggak jadi keluar sama pacarmu?” tanyanya lagi. Tanpa sengaja pagi tadi ia mendengar percakapan Raka dengan pacarnya melalui telepon.

“Nggak jadi, Pak.”

Pak tua itu kembali berkutat dengan kanvasnya ditemani Raka yang beralih duduk di sisi lain. Sesekali ia berhenti memandangi lukisannya. Hening. Hanya terdengar hewan malam yang rajin mengerik. Keduanya larut dalam kebisuan.

“Ka, kalau ada janji sebaiknya ditepati.” Suara Samsul terdengar lirih dan tegas.

“Saya nggak ada janji dengan Marni, Pak. Lagipula dia sibuk dengan tugas kuliah.”

“Ya sudah, Bapak juga nggak keberatan kalau sendiri, sudah biasa.”

Lalu Samsul memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri meletakkan kuasnya.

“Menurutmu lukisan ini bagaimana?” tanyanya kemudian.

“Bagus.” Suara Raka terdengar sedikit ragu. Karena selama bekerja di sini, ini kali pertama Samsul bertanya tentang lukisannya. Pak tua itu beranjak dari tempat duduk, memandangi lukisan dari jauh dan tersenyum. Senyum itu membuat Raka tak tahan menyimpan pertanyaannya lebih lama lagi.

“Kenapa jarang ada yang beli lukisan Bapak ? Maaf kalau saya lancang. Malah lukisan Pak Tomi dan murid-muridnya yang lebih laris.”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan