Lelaki yang Tersiksa Rindu dan Dendam

234 kali dibaca

Lelaki yang duduk di lincak depan teras itu tampak gelisah. Matanya nanar. Mulutnya sesekali mendesah, entah oleh resah ataukah sebab apa. Yang pasti, surat di tangannya itu telah menyesaki pikirannya. Salah seorang kerabatnya di kampung telah memanggil dirinya untuk pulang. Kaus yang dia kenakan basah oleh keringat, dan perlahan membuatnya kedinginan. Akan tetapi, hawa dingin yang mulai menjalar di tubuhnya itu ternyata tak mampu mendinginkan suasana hatinya. Angin senja yang juga meniup selembar surat di tangannya itu mengayun-ayunkan perasaannya. Pantaskah ia pulang setelah semua dendam yang hari demi hari membakar jiwanya?

Ia adalah Barjo, pemuda yang merasa dikhianati oleh tanah kelahirannya. Sepuluh tahun yang lalu, setelah kehilangan kedua orang tuanya, dia merasa hidupnya telah kehilangan arah. Ayahnya ditangkap oleh aparat karena terlibat sebuah pergerakan yang, kata orang, pro-wong cilik.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tahun 1965 kala itu memang begitu mencekam. Siapa saja yang terlibat partai berlambang palu arit pasti menjadi buronan aparat dan berujung pada kematian. Setelah ibunya juga ditangkap, ia pun juga harus pergi sebagai orang yang terusir. Dan semakin hari ia semakin merasa, tanah pesisir itu tak lagi menghendakinya. Semua orang menganggap dirinya sebagai najis yang harus dihindari. Dan kini dendam itu tetap membara walau waktu telah lama berlalu.

Kopi di depan pemuda itu telah berhenti beruap. Waktu yang berlalu telah mengusir hawa panas minuman hitam itu. Seperti diingatkan oleh sesuatu, ia buru-buru menyeruput kopinya. Tak berapa lama, terdengar suara beduk maghrib menggelegar dari beberapa sudut kota. Pemuda bertubuh kekar itu menyeruput lagi kopinya. Entah sudah berapa kali kopi itu diseruputnya. Dan entah berapa kali pula adzan yang berkumandang selalu ia abaikan.

Dia adalah Barjo, lelaki yang resah itu, merasa panggilan adzan tak ubahnya sebagai penanda waktu belaka. Ia telah membuktikan, tubuhnya tetap kekar walau selalu mengabaikan panggilan dari langit itu. Dia sangat yakin, bahwa salat yang dia tinggalkan tidak akan membuat dirinya terpenjara atau akan mendapat hukuman lainnya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan