Perlunya Tamasya Usai Corona

193 kali dibaca

Rasulullah SAW banyak menghabiskan hidupnya dengan berkelana, baik untuk berdagang lintas negeri di masa mudanya, sewaktu hijrah dari kota ke kota, maupun dalam rangka misi penyebaran agama Islam. Beliau pribadi yang berakhlak baik, namanya pun masyhur di berbagai negeri pada masanya. Terbukti, kebesaran namanya yang beriringan dengan meluasnya ajaran Islam.

Imam Syafii adalah ulama dengan perjalanan berkelana luar biasa, dari Mesir, Irak, dan banyak negeri di sekitarnya. Buah dari perjalanan beliau, tentu saja yang bisa kita sebut qaul qadim dan qaul jadid, pendapat yang terdahulu dan terkini. Dan banyak kitab yang beliau susun, madzhabnya merupakan yang terbanyak dianut umat Islam dunia.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Para ahli hadits juga demikian. Mereka berkelana sepanjang hidupnya, demi mengkonfirmasi kebenaran hadits yang mereka dengar. Mereka mencari penuturnya agar berurutan sanadnya sampai kepada Nabi. Dari mendengar jutaan hadits, mereka memeriksa kesahihannya, menyeleksi, hingga terbukukan menjadi kitab-kitab dengan hanya beberapa ribu hadits saja.

Walisongo berkelana dari daerah ke daerah, dari puncak gunung sampai lembah rawa-rawa, dari istana kerajaan sampai gubuk-gubuk kecil penduduk, sampai akhirnya bisa menemukan metode yang paling tepat dalam berdakwah, dengan pendekatan budaya, dan berduyun-duyunlah masyarakat Nusantara memeluk Islam.

Ulama-ulama lain, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Arsyad Banjari, semua berkelana sampai ke Timur Tengah demi menimba ilmu, sampai kemudian bisa menelurkan hasil riyadhoh dengan menulis berpuluh puluh kitab, menjadi ulama yang disegani dan banyak muridnya.

Ya, manusia memang perlu untuk sekadar berjalan-jalan. Kalau Nabi memperoleh wahyu Ilahi, kalau ulama dan wali memperoleh ilham, kalau kita, ya biar dapat inspirasi. Inspirasi yang kemudian memunculkan gagasan-gagasan baru, ide-ide cemerlang.

Tahap berikutnya, kalau kebetulan ahli retorika, maka gagasan-gagasan akan menjadi kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut, dan enak didengar telinga, mencerdaskan banyak otak. Nah, kalau “ala-ala” penulis, ya jadi kata-kata, kata per kata, jadi paragraf, paragraf per paragraf, jadi kalimat, jadi satu halaman, begitu terus sampai tersusun sebuah artikel atau buku.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan