Lelaki Satu Suro

Udara sore yang hangat menemani sekelompok warga duduk-duduk di pos kamling di mulut gang menuju Desa Kemoceng. Meskipun musim pandemi dan diharuskan di rumah saja, beberapa warga ini membandel dengan alibi menjaga pintu masuk desa. Motif sebenarnya, ya, agar tetap bisa nongkrong dan terhindar omelan istri. Dari kejauhan di barat sana, mereka melihat seorang pria berjalan kaki mendekat. Tidak begitu jelas wajahnya dan hanya membentuk siluet karena dia membelakangi matahari yang hampir rebah.

Warga bersiap-siap bertanya tentang identitas pria itu berikut tujuan dia datang ke desa. Ketika jaraknya tinggal beberapa meter, warga mulai mengenali pria tadi. Ternyata dia bukan hanya sosok yang mereka kenali, tapi bahkan rindui.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Yahaaa…! Woi Yaha pulang! Yaha Pulang!” seru Kohar sambil bejoget menirukan gaya monyet ekor panjang yang sering ditanggap warga desa.

Baca Juga:   Kiai Asep dan Pendidikan Harga Mati

Warga lain segera berhambur dan memeluk Yaha tanpa risih maupun khawatir tertular virus. Tak sedikit yang berebut mencium tangannya, sementara Yaha seperti pasrah sembari menebar senyum diperlakukan istimewa demikian. Keriuhan kecil itu mengundang warga lain keluar rumah dan menghambur berebut bersalaman atau mencium tangan Yaha. Bagi orang luar desa yang melihat peristiwa ini pasti akan berpikir bahwa warga Desa Kemoceng berlebihan dan bahkan membahayakan diri dengan merangkul, menjabat tangan, bahkan mencium tangan Yaha yang baru saja datang entah dari mana.

Baca Juga:   Pawang Hujan

“Bagaimana kabarmu? Kamu tampak sehat. Virus pasti tidak punya nyali mendaki tubuhmu,” tanya Rasikin, salah satu ketua RT Desa Kemoceng, penuh semangat.

“Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Lihat wajah saya, segar sekali, kan?” jawab Yaha sembari tersenyum, membelalakkan mata, dan berkedip-kedip jenaka untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

“Saya sudah yakin kamu pasti baik-baik saja. Jangankan virus, kematian saja takut padamu. Kamu masih ingat, kan, waktu gudang padi saya roboh dan kamu malah cekikikan tertimpa pintunya?” kata Ketua RT disambut gelak tawa warga dan anggukan Yaha.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan