Labuhan Kayu

65 kali dibaca

Pagi ini ia melihat labuhan yang sudah dikerumuni puluhan orang. Setiap hari, ia juga melihat labuhan yang panjangnya tiga puluh meter. Lima belas meter pertama terbuat dari semen campur batu gunung, sisanya terbuat dari kayu ulin. Ia mencium aroma parfum dikenakan beberapa orang yang hendak bepergian ke pulau seberang.

Di seberang, adalah kota-kota penuh lampu dan cahaya yang tidak pernah berkurang. Sementara, ia hanya memandang ujung pelabuhan sambil berpikir, kapan ia akan ke pulau seberang; mengunjungi kota-kota yang diceritakan tetangganya. Ia putus sekolah meginjak kelas lima sekolah dasar. Ibunya meninggal dan satu-satunya orang yang mampu menggantikan adalah kakeknya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Di rumah, kakenya senatiasa menceritakan bagaimana labuhan itu didirikan. Kakeknya salah seorang pelayar ulung yang selalu berlayar ke utara. Ke Kalimantan, kata kakeknya. Ia tidak tahu Kalimantan di mana. Tetapi, ketika orang-orang menyebut hendak ke utara yang terlintas adalah Kalimantan, kalau tidak ya Banjarmasin.

Nama-nama itu yang dikenalkan kakeknya dan hingga kini masih lekat di kepalanya. Neneknya lebih sibuk mengurusi urusan pasar sebagai pedagang bawang dan bumbu-bumbu dapur lain. Neneknya tidak punya penghasilan yang banyak dan harus menanggung semua urusan rumah. Kakeknya yang sudah lama tidak berlayar tidak bisa membantu apa-apa selain mengangkat barang dan mengantar ke pasar.

Matanya masih lekat tertuju pada labuhan yang setiap pagi memang tidak lengang. Selalu saja ada orang-orang yang hendak bepergian ke pulau seberang. Kadang ia ingat ibunya yang sudah tenang atau ayahnya yang menikah lagi. Yang pasti, ketika pagi ini ia mengunjungi labuhan —ia menyebutnya labuhan kayu— di kepalanya kembali tersulut cerita-cerita lama.

Kepalanya memang seperti celengan tempat menyimpan cerita-cerita yang tidak banya diketahui orang-orang kampung, selain ia. Selain ia dan kakeknya, atau bahkan neneknya. Ketika perahu dengan cat warna biru menyalakan mesin, kepalanya kembali mengingat apa yang diceritakan kakeknya.

Semula pelabuhan itu tidak terbuat dari semen dan kayu. Panjangnya hanya mencapai sepuluh meter dan semuanya terbuat dari kayu ulin. Baru setelah mengalami kerusakan parah di bagian hulu, maka diganti. Kini, tinggalnya ujungnya saja yang terbuat dari kayu ulin banjarmasin. Di bagian hulu, semen dan batu gunung yang mengambil alih. Dan panjangnya mencapai tiga puluh meter pas.

Saat itu, kapal-kapal besar mulai rajin bersandar. Lautnya yang dalam membuat kapal-kapal besar berani menepi. Meski begitu, banyaknya kapal yang sandar tidak membuat kehidupan desa membaik. Desa tetaplah desa yang tanpa lampu dan gelap gulita. Sebab banyak kapal besar yang sandar itu juga, akhirnya bagian hulu diganti semen dan batu gunung.

“Untuk apa kapal-kapal itu sandar, Kek?”

“Menjual barang-barang yang mereka bawa, ada banyak barang yang dijual mereka.”

“Tapi, bukannya Kakek juga seorang pelayar, mengapa orang kampung tidak membeli kepada Kakek?”

“Kakek tidak menjual rempah-rempah. Kakek hanya membawa dan menjual kayu ulin dari Kalimantan.”

Sebagian besar kayu ulin di jembatan itu memang berkat kakeknya. Si kakek dengan susah payah membawa banyak kayu ulin dari utara dengan kapalnya sendiri. Malang nasib kakeknya, ternyata pemerintah desa malah semena-mena, harga yang dibeli untuk kakeknya jauh dari kata menguntungkan.

“Bukan menguntungkan, yang ada malah kakek yang rugi. Kalau tidak dikasih, nanti kakek yang terancam dipersulit soal pelayaran atau bahkan dilarang.”

Ketika ingat cerita kakeknya, matanya menyala-nyala, seperti ada kobar api di sana. Labuhan kayu ini bukan hanya labuhan kayu biasa. Ada banyak cerita, luka, dendam yang menurutnya belum terbalaskan. Makanya, setiap pagi ia melihat labuhan ini dengan penglihatan yang jeli. Ia mengamati sampan yang membawa orang-orang itu untuk ke pulau seberang dan menuju kota. Sampan dengan bunyi mesin yang bising dan kepul hitam dari lubang bagian belakang pelan-pelan mengecil. Dan ketika sudah tidak terlihat lagi, pertanda sampan itu sudah sandar di pulau seberang. Saat-saat itulah ia beranjak pulang, membalikkan badan dan memunggungi pelabuhan.

***

“Waktu itu yang menjadi kepala desa siapa, Kek?”

“Pak Karimun, kakek dari kepala desa yang sekarang menjabat.”

“Apa Pak Karimun jahat?”

“Tidak juga, tapi main dia halus.”

“Halus bagaimana?”

“Kebijakan-kebijakannya seolah-olah berpihak kepada rakyat sebagaimana ucapannya, padahal hanya memihak kepada para pendatang dengan kapal-kapal besar yang sandar.”

Labuhan itu memang atas nama desa yang mendirikan, tetapi ada andil dari para pemilik kapal juga besar. Pemerintah daerah tidak pernah memberikan anggaran untuk membangun pelabuhan. Sementara desa tidak punya uang banyak, maka kepala desa memanfaatkan para pemilik kapal. Gampangnya, mereka bekerja sama dan mungkin banyak kongkalikong lain di sana. Sebab, sesudah labuhan itu berdiri, kakeknya tidak lagi diperbolehkan berlayar ke utara. Itu adalah tahun terakhir kakeknya berlayar dan tidak ada pelayaran lain sesudahnya.

“Kakek orang bodoh, hanya pandai melawan angin dan ombak. Seandinya kakek pintar, maka kepala desa Pak Karimun tidak akan mengibuli kakek.”

“Bagaiamana bisa begitu?”

“Kata Pak Karimun negara telah melarang orang-orang seperti kakek berlayar dan berdagang karena tidak punya izin.”

“Lalu, mereka pemilik kapal yang sandar bagaimana?”

“Beda cerita dengan mereka. Kata Pak Karimun, mereka mendapat izin dari negara, atau mungkin lebih tepatnya menyuap negara.”

Hanya dengan alasan yang dibuat-buat seperti itu kakeknya berhenti berlayar. Ekonomi keluarga rusak parah karena perdagangan kakeknya harus berhenti. Puluhan tahun tahun sesudah Pak Karimun mundur, kakeknya baru paham bahwa ia telah dibodohi. Namun, ia tetap tidak berlayar ke utara karena beranggapan tidak ada orang tempat ia membeli kayu ulin lagi di Kalimantan. Akhirnya kakeknya benar-benar berhenti sampai detik ini. Dapat dipastikan, ia membenci Pak Karimun sebagaimana kakeknya juga.

***

Itu bukan labuhan biasa. Sudah tiga kali atau paling tidak lima kali orang-orang ditemukan tidak bernyawa di sana. Penyebabnya ada banyak sesungguhnya, namun yang paling bisa diyakini sejauh ini ya karena terjatuh ke laut. Maklum, lautnya memang tidak dangkal, dalamnya bukan main. Beberapa orang yang jatuh di sana kemungkinan besar tidak bisa berenang, kalau pun bisa tidak menjamin selamat. Apalagi di waktu-waktu selain waktu pagi, labuhan itu memang sepi. Seandainya seseorang jatuh pada waktu sore dan tidak bisa berenang, kemungkinannya akan ditemukan sebagai mayat. Kalau mujur, mungkin ada orang yang bisa berenang untuk menolong, tapi kecil kemungkinan.

Ia mengetahui, dulu salah seorang kuli yang biasa mengangkut barang-barang terjatuh juga di sana. Seorang perempuan yang kerjanya memang hanya untuk mengangkut barang dagangan milik orang-orang yang datang dari kota. Perempuan itulah yang ditemukan tidak bernyawa dan harus dibawa dengan keadaan perut kembung. Ia memanganggap bahwa labuhan yang dipandanginya setiap pagi adalah labuhan petaka. Selain labuhan kayu, ia juga bisa disebut labuhan petaka, pikirnya. Namun sudah lama labuhan itu tidak lagi memakan korban.

Orang-orang desa, namanya juga orang desa, meyakini jika labuhan yang umurnya menginjak tujuh puluh tahun itu butuh tumbal. Sehari sesudah kejadian terakhir korban yang jatuh di sana, orang-orang desa menyembelih kambing hitam. Itu dimaksudkan agar tidak ada lagi kematian-kematian mengenaskan yang diakibatkan oleh labuhan itu. Sementara, sepanjang hari orang-orang yang mengunjungi pulau seberang kerap bertambah. Padahal, hanya ada satu alat transportasi menuju sana. Sebuah perahu bercat biru, miliknya kepala desa. Kalau sedang berhalangan atau tidak sedang mengangkut penumpang, maka orang-orang tidak bisa pergi ke pulau seberang. Sedangkan, orang lain selain antek-antek kepala desa yang juga punya perahu dilarang keras menarik penumpang.

“Kenapa kepala desa melarang orang lain menjadikan perahunya sebagai alat transportasi, Kek?”

“Karena kepala desa hanya ingin keuntungan dimiliki dirinya.”

“Oooo …”

Kakenya selalu memberi jawaban-jawaban yang bijak dan sangat memuaskan. Tangannya yang sudah keriput dan separo wajahnya sempurna menunjukkan ketuaan. Tetapi, pikirannya tidak pernah tua, pikirannya tidak pernah renta. Pikiran kakeknya selalu muda dan menyala-nyala. Kakeknya juga rajin mengikuti bagaimana perkembangan desa dan persoalan-persoalan bejat kepala desa. Seumpama beras bantuan untuk orang miskin yang tidak dibagikan, kakeknya paham. Sangat-sangat paham. Sementara neneknya selalu menganggap bahwa sang kakek sok tahu dan banyak omong. Padahal, kenyataannya kakeknya memang paham segala tetek-bengek persoalan desa.

“Sudah tua, jangan sok tahu, nanti dilaporkan sama kepala desa,” kata neneknya sambil mengupas bawang merah, tentu tidak lupa beserta matanya yang mengembun.

***

Meski dengan kerumitan di kepala ia tetap saja berkunjung ke labuhan kayu. Kebiasaan yang setiap pagi dilakukannya selama hampir dua tahun tetapi tidak terputus. Padahal, di kepalanya sedang berpusing soal kakeknya yang tidak pulang sejak tadi malam. Kakeknya pamit untuk pijat tepat pada jam delapan kurang lima menit. Kakeknya membawa senter yang melekat di batang korek api. Setiap jalan malam kakeknya memang tidak biasa membawa senter. Tidak suka yang terang-terang, katanya. Ia kembali melihat orang-orang yang sudah rapi dan hendak ke pulau seberang. Beberapa di anataranya muka-muka yang dikenali dan sebagian lagi tidak. Namun, ada yang beda dari gerak-gerik mereka.

Seseorang yang entah siapa melambaikan tangan padanya. Seolah-olah berkata, cepat ke sini ada sasuatu. Tanpa berpikir panjang ia menuruti orang itu dan menembus keramaian di labuhan kayu. Setelah tiba di sana, ia menuruti perintah orang yang tak dikenalinya itu. Ia melihat ke permukaan laut dan seseorang telah mengapung di sana. Seperti tersambar petir di pagi hari, atau jatuh tertimpa tangga, atau bahkan disambar petir lalu jatuh tertimpa tangga dan bangunan. Ia mengenali bahwa yang mengapung itu adalah tubuh kakeknya, dilihat dari pakaian yang dikenakan. Ia tidak bersuara, matanya meredup dan pelan-pelan berderai juga.

Pada awalnya tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan, selain ingatan-ingatan yang lesat di kepalnya. Ingatan-ingatannya kembali kepada kapal-kapal besar yang bersandar. Ingatannya kembali kepada kakeknya yang dilarang berlayar. Ia benar-benar meyakini bahwa labuhan ini bukan labuhan biasa. Cinta dan dendam sering bentrok dan kerap berputar di labuhan ini. Ia refleks menanyakan sesuatu yang tidak diduga.

“Mana kepala desa?”

Dendam benar-benar merah di dadanya.

ilustrasi: kompasiana.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan