Labuhan Kayu

64 kali dibaca

Pagi ini ia melihat labuhan yang sudah dikerumuni puluhan orang. Setiap hari, ia juga melihat labuhan yang panjangnya tiga puluh meter. Lima belas meter pertama terbuat dari semen campur batu gunung, sisanya terbuat dari kayu ulin. Ia mencium aroma parfum dikenakan beberapa orang yang hendak bepergian ke pulau seberang.

Di seberang, adalah kota-kota penuh lampu dan cahaya yang tidak pernah berkurang. Sementara, ia hanya memandang ujung pelabuhan sambil berpikir, kapan ia akan ke pulau seberang; mengunjungi kota-kota yang diceritakan tetangganya. Ia putus sekolah meginjak kelas lima sekolah dasar. Ibunya meninggal dan satu-satunya orang yang mampu menggantikan adalah kakeknya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Di rumah, kakenya senatiasa menceritakan bagaimana labuhan itu didirikan. Kakeknya salah seorang pelayar ulung yang selalu berlayar ke utara. Ke Kalimantan, kata kakeknya. Ia tidak tahu Kalimantan di mana. Tetapi, ketika orang-orang menyebut hendak ke utara yang terlintas adalah Kalimantan, kalau tidak ya Banjarmasin.

Nama-nama itu yang dikenalkan kakeknya dan hingga kini masih lekat di kepalanya. Neneknya lebih sibuk mengurusi urusan pasar sebagai pedagang bawang dan bumbu-bumbu dapur lain. Neneknya tidak punya penghasilan yang banyak dan harus menanggung semua urusan rumah. Kakeknya yang sudah lama tidak berlayar tidak bisa membantu apa-apa selain mengangkat barang dan mengantar ke pasar.

Matanya masih lekat tertuju pada labuhan yang setiap pagi memang tidak lengang. Selalu saja ada orang-orang yang hendak bepergian ke pulau seberang. Kadang ia ingat ibunya yang sudah tenang atau ayahnya yang menikah lagi. Yang pasti, ketika pagi ini ia mengunjungi labuhan —ia menyebutnya labuhan kayu— di kepalanya kembali tersulut cerita-cerita lama.

Kepalanya memang seperti celengan tempat menyimpan cerita-cerita yang tidak banya diketahui orang-orang kampung, selain ia. Selain ia dan kakeknya, atau bahkan neneknya. Ketika perahu dengan cat warna biru menyalakan mesin, kepalanya kembali mengingat apa yang diceritakan kakeknya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan