Kisah Pesantren yang Tak Disengaja

Adakah sebuah pondok pesantren yang berdiri secara tidak disengaja? Ada. Dan begitulah faktanya.

Adakah Masyhudi Hamid yang memulai kisah ini. Dia tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Sedangkan orang tuanya tinggal di Bantul. Suatu ketika dia berniat untuk mengirimkan salah satu anaknya ke Bantul, supaya bisa jadi teman untuk orang tuanya. Juga sebagai bentuk baktinya kepada orang tua.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Maka terpanggillah seorang anak laki-laki bernama M Katib Masyhudi. Seorang anak yang bandel. Agak susah diatur. Meskipun, bagi seorang Masyhudi Hamid, tidak ada yang berani membantah, apalagi melawan.

Katib yang ditunjuk oleh bapaknya untuk pergi ke Bantul, gembira betul. Sebab, ia akan segera keluar dari kandang. Bagi Katib, ia adalah burung, dan perintah dari bapaknya itu adalah perintah untuk keluar dari kandang. Ia pun menyanggupi perintah bapaknya itu. Namun, dengan otak cerdasnya, ia membuat suatu akal-akalan. Suatu strategi. Diajaknya dua orang dari Klaten yang bersedia ikut pergi bersamanya ke Bantul. Jadi, Katib pergi ke Bantul bersama dua orang temannya itu.

Baca Juga:   Kisah El Bayan dan Santri Mandiri

“Di sini monggo, Kang. Tidak usah bayar. Mau sekolah di mana terserah. Mau ngaji di mana-mana juga terserah. Silakan. Tapi ada satu catatan, ngurusi simbah di rumah.” Begitulah bujuk rayu yang dikatakan oleh Katib pada kedua teman agar ikut bersamanya ke Bantul.

Berjalannya waktu, dua orang teman Katib sangat senang tinggal di Bantul. Mari saya beritahu nama desanya: Wonokromo. Mereka berdua merasa mendapatkan banyak kemudahan. Kemudahan mendapat pendidikan, kemudahan akses ngaji, dan lain sebagainya. Meski harus mengurus simbahnya Katib, tidak masalah. Mereka tetap senang berada di Bantul, di Pleret, Wonokromo. Sebab, Wonokromo adalah kampung santri. Ada banyak kiai sepuh dan alim. Mereka berdua bisa ngaji ke siapa saja. Apalagi, Wonokromo adalah bagian kecil dari Yogyakarta, daerah yang berjulukan “Kota Pelajar”. Ingat. Belum ada namanya pondok pesantren.

Tinggalkan Balasan