Kisah Orang-Orang Bermata Biru

115 kali dibaca

Mataku mengerjap-ngerjap saat Nayla kembali membentakku. Dia sudah mengomel panjang lebar dari entah berapa menit yang lalu. Ah, bukan mengomel, dia sedang merundungku lebih tepatnya. Kutundukkan mataku ke lantai pualam putih depan ruang kelas itu. Telingaku pun telah panas, penuh dengan kalimat-kalimat perundungannya.

“Heh!! Leona Van Duarte!! Cewek bermata biru yang sok cakep!” Nayla bersungut-sungut di depan wajahku. Kuabaikan perlakuan congkaknya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Selama di madrasah ini aku memang sering mengalami perundungan oleh Nayla dan beberapa temannya. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin hanya karena birunya warna bola mataku, kulitku yang berwarna putih, atau rambut yang coklat ini lantas ada orang yang merasa berhak menghinaku. Bukankah pelangi itu indah karena warnanya yang berbeda-beda? Walaupun ayahku seorang Spanyol, tapi aku lahir di Malang. Aku pun hanya menguasai bahasa Jawa dan Indonesia dan beberapa kosa kata bahasa Spanyol. Aku pun berkewarganegaraan Indonesia. Lalu apa salahku memiliki perbedaan fisik dengan mereka? Padahal, dulu ketika masih duduk di bangku SD aku tak pernah diperlakukan begini.

Aku tak pernah tahu bahwa mata biruku adalah kutukan sampai sebuah cerita itu sampai ke telingaku. Ketika itu aku baru menginjak jenjang pertama di madrasah tsanawiyah tempatku sekolah. Ketika belajar di MTs ini aku mengalami beberapa hal yang tak terlupakan bagiku. Salah seorang temanku sakit hingga tak masuk sekolah berhari-hari. Aku yang sebenarnya dijauhinya dengan terpaksa tetap ikut menjenguk. Iya, dia adalah Nayla, teman sekelas yang memusuhiku itu. Ini memang buah simalakama. Jika aku tak ikut menjenguk, dia akan semakin memusuhiku dan tentunya akan disalahkan guru. Jika pun aku ikut menjenguk, entah dia akan menerimaku atau tidak.

Saat aku masuk rumahnya, beberapa saat kemudian ibu Nayla memanggilku ke ruang belakang, meninggalkan teman-temanku yang tengah mengerumuni Nayla, waktu itu tidak ada guru yang ikut mendampingi. Perempuan paro baya itu bertanya banyak hal tentang diriku. Aku katakan sejujurnya, bahwa aku memang memiliki ayah yang seorang Spanyol. Betapa malangnya hari itu, ternyata jawabanku tadi memantik emosinya. Dia mengataiku macam-macam, menuduhku dengan yang bukan-bukan. Katanya, semua orang bermata biru itu sama, sama-sama busuknya. Lalu mengalirlah cerita dari mulutnya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan