Kisah-kisah Jurnalistik, Perang, dan Cinta

413 kali dibaca

Senin malam, 18 Desember 2023, terasa sangat istimewa. Di Kafe Kancakona Kopi tengah diadakan kegiatan Ngobras (Ngobrol Santai) oleh seorang penulis/jurnalis perang internasional (PBB), Ibu Ugi Agustono. Sebuah pertemuan dari takdir yang spesial bahwa kegiatan ini bernuansa mengharukan sekaligus nostalgia dan menyenangkan.

Suasana yang tenang di antara nyanyian binatang nokturnal; jangkrik, katak, dan belalang menjadi saksi dari kisah-kisah yang mendebarkan. Bahwa perang adalah suasana yang menakutkan dan menyengsarakan lahir dan batin. Bahwa jurnalistik adalah kemanusiaan yang mesti diperjuangkan. Bahwa cinta adalah nostalgia yang bisa terjdi di mana saja dan kapan saja.

Advertisements

Ugi Agustono, yang akrab dipanggil Arti Erst dalam dunia jurnalistik, telah melalui perjalanan yang luar biasa dalam kariernya sebagai penulis dan jurnalis perang internasional. Dengan dedikasi yang luar biasa, ia telah menjadi suara bagi banyak konflik yang terpinggirkan di berbagai belahan dunia, terutama melalui pengabdiannya sebagai jurnalis di PBB. Karyanya yang mendalam dan penuh perhatian telah membuka mata dunia terhadap realitas tragis yang sering kali tersembunyi di balik konflik-konflik global.

RH Authonul Muther, sebagai moderator di acara ini, mengawalinya dengan narasi pengantar terkait perang di Timur Tengah. Sementara pemateri kali ini, Arti Erst hadir bersama suami tercinta, Eric Franklin Scott, menambah suasan khas dan spesial. Ibu Ugi menyampaikan materi terkait dengan jurnalistik.

“Saya sudah lebih 17 tahun bekerja di jurnalistik. Sudah berkelana dari Sabang sampai Merauke, berkeliling dari satu negara ke negara yang lain,” demikian di antara awal bincang Bu Ugi mengawali obrolannya.

Ugi Agustono adalah perempuan yang tangguh dengan kondisi kehidupan yang sangat sederhana. Bu Ugi bercerita bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin dengan ibu seorang penjual pecel. Di samping itu, orang tuanya harus menghidupi Bu Ugi beserta tujuh saudara dengan kondisi yang sederhana. “Saya delapan bersaudara. Ibu saya seorang penjual pecel yang miskin yang tidak bisa memberikan biaya untuk pendidikan. Oleh karena itu saya dan saudara-saudara harus berusaha sendiri untuk biaya kuliah dan semacamnya.”

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan