Khat Diwani, Sejarah dan Perkembangannya

618 kali dibaca

Apabila melihat tulisan di atas, mungkin sukar bagi kita untuk membaca atau bahkan memahaminya. Tulisan yang bersifat kursif, tersusun dengan huruf tanpa titik, saling berpadu antara satu huruf dengan huruf lainnya, dan tanpa adanya tanda huruf hidup atau syakal. Tulisan seperti ini dikenal dengan nama khat diwani.

Dinamakan diwani karena nisbah kepada kantor-kantor (diwan) pemerintah di mana tulisan itu digunakan. Dan dari dewan-dewan pemerintahan itulah khat diwani ini menyebar ke seluruh kalangan masyarakat pada saat itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pada mulanya khat ini hanya diciptakan untuk menyalin berbagai ketetapan dokumen dan buku-buku resmi negara. Tetapi, di masa modern saat ini, gaya kaligrafi ini digunakan untuk menulis sertifikat hingga berfungsi sebagai alat dekorasi.

Khat atau tulisan diwani adalah salah satu gaya khat yang diciptakan oleh masyarakat Turki Utsmani. Peletak dasar-dasar kaidah dan ukuran huruf-hurufnya adalah Ibrahim Munif. Kaligrafi diwani ini sempat menjadi “rahasia” kerajaan, yang hanya diketahui oleh sultan dan para juru tulisnya. Kemudian, tulisan ini mulai populer setelah penaklukan kota Konstatinopel oleh Sultan Mehmed II atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Muhammad al-Fatih tahun 875H.

Di kemudian waktu, tulisan jenis ini disempurnakan oleh Menteri Ahmad Syahlan Basya, dan ia juga yang berjasa mempopulerkannya di kalangan masyarakat Turki Usmani pada saat itu. Selanjutnya, kaligrafi diwani membentuk aliran tersendiri, melalui seorang kaligrafer bernama Muhammad Izzat At-turki yang mempunyai gaya dan cara penulisan yang unik.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan