KETIKA RANJANG BERDERIT

221 kali dibaca

DALAM DOA
:Ryhn

Biar kunikmati sendiri desau angin di luar
Cuaca buruk dengan hujan yang gemetar
Asal dalam doa kau tetap setia mengirim sebar
Karena barangkali kasak-kusuk
Hanya tempias dari cemburu: Luka lama itu

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Nun jauh di balik bukit lancaran
Dan di kepala kita jalan membentang, panjang
Engkau cukup paham bahwa sekarang tengah penghujan
Dan aku selalu meyakinkan
Tak ada yang lebih hangat selain doa-doa yang tetap dipanjatkan

Diam sayang,
Jangan tengadah memandang langit yang kacau
Sebab angin sedang merencanakan dinginnya kehilangan
Dan tetap percaya bahwa di dalam doa
Kita takkan gigil sepanjang musim hujan

Sepanjang matahari kembali bersinar
Dan menutup hakikat zaman.

Gapura, Maret 2022.

KETIKA DIA MEMCOPOT SEBUAH ANGKA DALAM SEBUAH KALENDER

“Tanggal berapa ini, ibu?”

Perempuan itu meracau pada kesepian
Ibunya tak pernah hadir sebagai kenyataan
Bapaknya sibuk melawan arus di samudra yang menghampar
Sedang waktu kian laju kian mencekam

Hidup begitu pelik dan dewasa serupa jarum jam
Yang tiba-tiba menjelma pisau.

Dengan tangan dan tubuh di bungkus gemetar
Ia berjalan ke arah kalender yang terpasang
Kalender tua yang pernah membiarkan
Ia bermain dengan kawan hujan
Dan malam hari ibunya kalut sebab ia demam.

“Hai, bisakah kau mengembalikan aku
Pada hujan, pada teriakan ibu di kejauhan
Pada diam ayah yang membuatku gemetar”

Ia berbicara pada sebuah tanggal
Tanggal itu diam. Tentu saja.
Ia tak pernah punya pilihan lain selain
Sekadar mengikuti putaran takdir
Ia hanya penaggalan biasa
Dan selebihnya adalah Tuhannya yang bekerja

Tiba-tiba ia mencopot tanggal pada kalender itu

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan