Kebanggaan Marka’i

Marka’i oh Marka’i. Dia hanya seorang tua di dalam rumah mewah beserta para pembantunya. Sangat dermawan dengan sikapnya yang budiman. Marka’i telah ditempa oleh orang tuanya sejak belia. Bahwa hidup ini adalah bentuk syukur paling dasar yang bisa kita haturkan kepada Tuhan.

Sejak dulu keluarganya memang berbalut kemiskinan. Makan sehari dua kali sudah menjadi sebuah keberkahan baginya. Sang bapak sebagai kuli bangunan, kerja serabutan, buruh sawah dan sebagainya. Si ibu berjualan di pasar setiap pagi. Sebagai penjual gorengan dia tak bisa mengambil untung banyak. Atau lebih tepatnya tak tega. Bila ukurannya dibesarkan dia takkan mendapat laba, dan bila terlalu kecil hatinya tak tega.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Itulah kehidupan Marka’i dulu. Dengan semua keterbatasan. Sangat berbeda sekarang. Anaknya telah menjelma menjadi pebisnis muda yang sukses dan kaya. Dia buatkan bapaknya itu rumah megah di pinggiran kota dengan suasana semi perdesaan. Tepat di tepian sawah warga di sana. Karena saat anaknya itu memboyong Marka’i ke apartemen mewah berlantai 29, orang tua itu bilang kalau di sana terlalu sepi. Tak ada suara dari sekitar. Bahkan bunyi laju mobil dan motor yang hiruk pikuk mencari nafkah tak dia dengari.

Baca Juga:   Mencari Iman yang Hilang

Sejak usia belia anak Marka’i memang berprestasi. Banyak warga desanya yang tiap kali bertemu Marka’i selalu memuji-muji anaknya.

“Wah, Mark. Anakmu kemarin juara kelas lagi ya?”

“Iya, Alhamdulillah.”

“Rahasianya apa biar anak bisa pintar. Tirakat, wirid, atau apa?”

“Ah mana sanggup saya melakukan hal-hal macam itu. Mungkin karena dia sangat suka belajar.”

Baca Juga:   Gus Hikam Mencari Surga

Semua untaian kata itu bisa dibilang bohong. Dan juga bisa dibilang benar. Marka’i memang sangat rajin berpuasa, sebab memang juga sangat terbatas makanan yang ada di meja mereka. Bila Marka’i makan dua kali, artinya jatah nasi anaknya berkurang satu. Dia tak ingin melihat putranya itu belajar dengan perut lapar. Cukup tak ada penerangan saja, cukup dengan uplik minyak gas saja. Yang lainnya jangan sampai kurang. Makan, buku, jajan, dan seragam harus cukup.

Tinggalkan Balasan