Kearifan Kiai Habib

6,897 kali dibaca

Orang di desa itu sering menyebutnya Kiai Habib. Semula aku mengira nama kiai itu Habib. Ternyata dia adalah seorang Habib dengan marga Alaydrus. Dalam manaqib Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus disebutkan bahwa Habib Abubakar adalah orang yang pertama kali menggunakan  gelar Alaaydrus. Nama lengkap beliau adalah al-Imam al-Habib Abudllah bin Abubakar As-Syakran bin Abdurrahman Asegaf, yang sering disebut sebagai Faqih Muqaddan Tsaani. Ini artinya, semua habib yang bermarga Alaydrus merupakan keturunan dari Habib Abdullah bin Abubakar As-Syakran. Dengan demikian, Kiai Habib yang bermarga Alaydrus memang benar-benar seorang habib.

Sebenarnya, nama asli Kiai Habib adalah Habib Abdullah bin Muhammad bin Abubakar Alaydrus. Namun, saking terkenalnya dengan sebutan Kiai Habib, hampir tidak ada orang yang tahu nama asli sang habib. Ini terjadi karena sikap rendah hati dan akhlaknya yang sangat mulia. Meskipun seorang habib, beliau tetap berpenampilan sebagaimana layaknya masyarakat Nusantara, baik dalam berpakaian maupun dalam pergaulan.

Advertisements

Sebagai seorang habib, beliau memiliki privelese sosial tinggi di kalangan masyarakat Nusantara. Karena, bagi masyaraat Nusantara, habib dipandang sebagai orang suci, terhormat, dan mulia. Karena posisi itulah masyarakat awam merasa jengah untuk bisa menjangkau dan didekati secara fisik, berbicara secara bebas, apalagi sampai  bisa bercanda. Pandangan ini muncul sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan masyarakat Nusantara kepada habaib sebagai keturunan Nabi Muhammad.

Tatapi kelihatannya hal itu tidak berlaku bagi Habib Dullah. Sepertinya beliau ingin mengubah pola hubungan antara habaib dan rakyat yang berjarak itu, tanpa harus menghilangkan pandangan masyarakat yang memuliakan habaib. Beliau memangkas jarak dan menjebol sekat sosial dengan cara bersikap egaliter dan terbuka. Beliau turun ke bawah, mendekati umat dengan melepas segala atributnya sebagai seorang habib agar masyarakat awam tidak segan mendekatinya.

Sikap tidak membeda-bedakan derajat sosial dalam pergaulan ini juga diajarkan pada anak-anaknya. Setiap ada tamu atau bertemu orang, maka Habib Dullah selalu menyuruh anaknya mencium tangan orang yang lebih tua, meskipun orang tersebut dari golongan rakyat jelata yang bukan habib. Bahkan waktu menikahkan anaknya, Habib Dullah tidak menggunkan adat dan busana Arab, tetapi menggunakan adat dan busana Nusantara dari Aceh. Padahal, besannya juga dari keturunan Arab, bukan dari keturunan akhwal (non-Arab).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan