duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Jadi Santri itu Susah dan Berat…

Jadi santri itu memang berat dan susah. Harus memiliki ketabahan dan kekuatan ekstra, lahir dan batin, fisik dan mental, untuk bisa menjalani kehidupan dalam tradisi santri. Saat masih menuntut ilmu, santri harus memiliki kekuatan psikoligis berpisah dari orang tua, menjalani hidup mandiri dalam lingkungan pesantren. Ini merupakan ujian hidup dasar yang harus dijalani oleh seorang santri. Tradisi berpisah dengan orang tua untuk menuntut ilmu ini sudah berjalan berabad-abad dalam komunitas santri.

Baca Juga:   Bila Wanita di Atas Laki-Laki…

Tak hanya keluarga rakyat jelata yang harus merelakan berpisah dengan anaknya untuk menjadi santri, bahkan anak keluarga ningrat dan elite sekalipun harus rela berpisah dengan keluarga ketika menjadi santri.

Advertisements
Cak Tarno

Raden Mas Burhan (Ronggo Warsito), keluarga elite Keraton Surakarta, harus berpisah dengan keluarga ketika menjadi santri di Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Hasan Besari di Solo. Syech Nawawi al-Bantani, ulama besar Nusantara, sudah harus berpisah dengan orang tua sejak kecil untuk menuntut ilmu. Pada usia delapan tahun, Syech Nawawi dengan kedua adiknya yang masih kecil, Tamim dan Ahmad, sudah berpisah dengan orang tuanya untuk menuntut ilmu pada KH Sahal, seorang ulama dari Banten. Setelah itu, menjautkan berguru pada Syech Baing Yusuf Purwakarta dalam usia yang belum genap 15 tahun. Tradisi ini dipertahankan sampai sekarang.

Baca Juga:   Kearifan Kiai Habib

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan