Islam Nusantara dan Kesalehan Virtual

Sejauh ini, media sosial mampu membentuk karakter keberagamaan masyarakat Indonesia. Apalagi media sosial terbukti menjadi locus dakwah Islam progresif bekalangan ini. Alih-alih mengukuhkan nilai-nilai dan spirit Islam rahmatan lil ‘alamin, melainkan semakin mempertebal jurang kecemasan di antara umat beragama. Dakwah yang dibawa justru memukul, bukan merangkul. Ini merupakan potret dari pola keberagamaan yang lahir dari proses instan.

Fakta menjamurnya dakwah online, di mana hal itu masih dikuasai oleh paham keagamaan transnasional yang satu paket dengan paham-paham terorisme, dan kekhalifaan. Apabila hal ini tidak segera diseimbangi, maka bukan hanya paham keagamaan Nusantara yang terancam, bahkan nasionalisme berkebangsaan juga memiliki nasib yang buruk. Padahal jauh-jauh hari, Presiden Jokowi sudah berjanji akan memerangi ideologi. Tapi hal itu akan utopis jika tidak diseimbangi oleh peran para tokoh agama Islam Nusantara. Dari sini, kemudian penting untuk menumbuhkan kesadaran kesalehan virtual yang terejawantahkan dalam bentuk membangun situs, akun-akun online sebagai bentuk penyeimbang.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh kiai-kiai Nusantara, di antaranya KH Ahamd Mustofa Bisri, Gus Ulil Abshar Abadalla, Gus Nadirsyah Hosen, Kiai Husein Muhammad, Kiai Anwar Zahid, Habib Husein Ja’far, dan Gus Baha’ (untuk menyebutkan beberapa saja) sudah akrab dan tampil di media sosial, baik akun atau channel-nya dipegang sendiri atau orang lain. Sayangnya secara de facto akun-akun tersebut masih jauh apabila dibandingkan dengan akun-akun berpaham Islam konservatif, transnasional, khilafah, dan kelompok-kelompok aliran kanan lain.

Baca Juga:   Meneladan Sikap Rasul Menerima Kritik

Pendeknya, hal ini menunjukkan peran media dalam kehidupan sosial bukan sekadar sarana diversion, melainkan ada varian ideologi dan paham keagamaan yang dihadirkan dalam realitas media sosial hari ini. Maka, ulama-ulama Nusantara perlu turun untuk merendam gelombang paham Islam yang cenderung keras, konservatif, dan penuh caci maki di media sosial. Keterlibatan kiai-kiai Nusantara di ranah virtual memiliki ingatan secara kolektif, di mana kerap kita dengar anekdot metologis khas pesantren al-muhafadzah ala al-qodim al-shaleh wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Tinggalkan Balasan