Indonesia Kita dan (Arti) Kemerdekaan

435 kali dibaca

Sebagai santri kita harus bersyukur kepada Allah Swt yang telah membawa Indonesia dalam pertumbuhan dan perkembangan hingga saat ini. Tentu saja kita semua berharap kelak Indonesia menjadi bangsa yang sukses.

Kemarin umat Islam banyak melakukan kegiatan guna memperingati tahun baru Hijriah. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang semarak dengan tiupan terompet dan kembang api, justru kebanyakan umat Islam melaksanakan puasa dan berbagai tradisi lain yang amat sederhana dalam memperingati tahun baru Hijriah.

Advertisements

Kegiatan dalam mensyukuri satu Muharam, bulan yang mulia, di beberapa tempat bahkan dibacakan selawat dengan hikmat. Waktu peralihan yang dimulai sehabis Ashar hingga setelah Maghrib diisi dengan tirakatan dan zikiran. Laku santri semacam itu sungguh elok melatih kepribadian sebagai manusia yang disiplin, rendah hati, dan bersyukur. Tanpa maksud membeda-bedakan dengan ritual dari agama yang lain, yang tentu saja memiliki nilai kebaikan yang sama untuk sesama.

Baca juga:   Anak, antara Amanah dan Cobaan

Kini, Indonesia memasuki tahun kemerdekaan yang ke-77. Hampir seabad sudah bangsa Indonesia menempuh kehidupan sejak diplokamasikannya kemerdekaan dan diakuinya kedaulatan kita sebagai negara bangsa dengan nama Republik Indonesia.

Nasionalisme yang kuat telah berjuang membebaskan kita dari penjajahan secara fisik, walaupun secara teori (misalnya, Poskolonial) masih dikatakan bahwa kita belum lepas dari penjajahan mental. Namun, secara faktual tertulis kita telah merasakannya lewat setengah abad. Usia yang untuk ukuran manusia Indonesia itu sudah masuk lansia, dan bagi seorang mantan Pegawai Negeri (PNS) telah jompo atau leot usai lewat masa pensiun. Namun, bagi Indonesia sungguh baru belia. Kita tahu, misalnya, demokrasi Amerika itu sudah berlangsung ratusan tahun, terhitung sejak Deklarasi Kemerdekaan AS 4 Juli 1776.

Baca juga:   Menuju STQ Nasional XXVI Sofifi #1: Serpihan Surga di Maluku Utara

Indonesia kita dalam sistem demokrasi baru berjalan lebih baik setelah masa Reformasi. Pada masa Orde Baru belum tumbang tentu saja demokrasi kita ‘koma’/sekarat hampir wafat. Kini pun demokrasi kita tengah menghadapi ancaman sisa dari sejarah masa lalu yang makin canggih saja merampok kekayaan negeri, yaitu segelintir orang yang ditandai dengan nama Oligark.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan