duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Dua Titipan Mbah

Langit masih pekat. Mbah Usup, laki-laki setengah abad, itu bangun menuju dapur kemudian meletakkan panci yang berisi air segelas ke atas kompor. Setelah api menyala, lelaki separo baya itu menuju musala peninggalan leluhurnya yang berada di depan rumahnya. Kebiasaan Mbah Usup adalah membersihkan Musala Al-Mudzakir sebelum dipakai salat subuh. Kali ini, Musala Al-Mudzakir berantakan karena kemarin malam ada orang, yang diduga maling, masuk. Tumpukan bangku TPA berserakan dan kapet-karpet menggunung di pojokan.

Baca Juga:   Pakdhe

Dengan sisa-sisa tenaga, Mbah Usup mengangkat satu per satu bangku-bangku itu lalu disusun rapi di bagian musala. Usai menggulung karpet yang beserakan, Mbah Usup menuju pojokan utara belakang ruang musala. Di sana ada gundukan karpet. Ketika dibongkar untuk dirapikan, terlihat orang yang tergeletak terbujur di antara karpet.

Advertisements
Cak Tarno

“Astagfirullah, Mbah Tri… Mbah Tri…,” Mbah Usup memanggil istrinya dengan nada histeris. Mbah Faiq, istri Mbah Usup, pun berlari ke arah musala.

Baca Juga:   Pentingnya Bertegur Sapa

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan