duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Gatot

Ini bukan tentang sebuah nama. Tapi simbol.

Saya pernah mengenalnya dulu, dulu sekali, ketika masih kanak-kanak. Ketika rumah-rumah di desa kami masih beratap ilalang. Ketika rumah-rumah di desa kami masih berdinding bambu (gedek). Ketika rumah-rumah di desa kami masih berlantai tanah. Ketika hanya ublik yang terus mencoba melawan gelapnya malam yang menudung rumah-rumah kami.

Advertisements
Cak Tarno

Suatu hari, ayah-ayah kami tidak lagi pergi ke sawah, melainkan ke ladang-ladang dekat-dekat hutan, atau ke pekarangan-pekarangan dekat-dekat rumah. Pulang ke rumah, ayah-ayah kami membawa berpikul-pikul singkong.

Baca Juga:   Tiga Lapis Ilmu

Ibu-ibu kami, atau saudara-saudara perempuan kami, kemudian menguliti singkong-singkong itu, lalu dijemur di bawah curahan sinar Matahari yang terik. Sampai kering dan mengeras. Sampai singkong-singkong itu mulai berjamur, dan berubah nama menjadi gaplek.

Singkong-singkong yang sudah berubah warna itu, dari putih menjadi kehitaman dan menjadi gaplek, kemudian direndam selama dua hari dua malam. Bisa di ember atau di genthong. Kami semua melakukannya dan memperlakukannya dengan hati-hati, dengan sepenuh hati, laiknya gaplek itu barang pusaka. Sampai singkong-singkong itu, gaplek-gaplek itu, berubah lagi dari keras menjadi kenyal.

Baca Juga:   Tuan Guru Musthafa Hussein, Empu Aswaja di Bumi Sumatra

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

There is 1 comment for this article
  1. Rusdi El Umar
    Rusdi El Umar 26 Sep 2020 14:17

    Lebih merasa membaca cerpen daripada membaca opini, tapi tetap dapat dinikmati 👍👍👍

Tinggalkan Balasan