Dari Merayu Tuhan hingga Wali Youtube

1.159 kali dibaca

“Ibadah itu bukan hanya untuk dijalankan secara fisik, melainkan secara batin. Begitu juga pahami dan resapi apa yang dibaca saat salat, apa filosofinya sujud, apa makna thawaf, dan lain-lain. Ingat, ibadah itu rayuan, seperti kamu ke kekasihmu: tulus!” tulis Habib Husein Ja’far Al-Hadar dalam buku terbarunya, Seni Merayu Tuhan (hlm. 27).

Saat beribadah, ibadah apa pun bentuknya, kita perlu merayu Tuhan. Contoh, ketika salat, kita merayu Tuhan dengan kekhusyukan. Sebab, salat bukanlah sekadar gerakan rukuk, sujud, dan lain-lain. Kalau hanya sekadar gerakan-gerakan seperti itu, Habib Husein menyebutnya ‘yoga bersyariah’.

Advertisements

Firman Allah dalam surah al-Ma’un ayat 4-5, “Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat! (Yaitu) yang lalai terhadap salatnya.” Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa maksud lalai adalah mereka yang mengerjakan salat namun tidak khusyuk. Menegakkan salat, jika diperinci, tegak artinya bukan hanya sebatas menunaikan lalu gugur kewajiban, tetapi harus berupaya untuk khusyuk, sebab khuyuk merupakan kunci salat.

Baca juga:   Larik Cinta Sang Mahacinta

Selain khusyuk, merayu Tuhan dalam ibadah salat adalah dengan menjaga adab. Mau bertemu dengan camat, bupati, atau gubernur saja, kita nervous minta ampun. Seharusnya sikap kita lebih dari itu saat hendak menghadap Allah. Kita seyogianya juga lebih rapi dan lebih harum saat menghadap Allah, bukan hanya ketika mau bertemu atasan.

Baca juga:   Fenomena Kewalian Gus Dur

Ini bukanlah soal cara pandang Allah kepada kita, tapi bagaimana adab kita sebagai hamba-Nya. Ketemu makhluk Allah saja kita rela bersusah payah berdandan, kadang sampai perlu beli baju baru, tapi begitu ketemu Empunya alam raya ini, kita malah terkesan meremehkan (hlm. 23).

Dalam ibadah-ibadah lain pun kita butuh merayu Tuhan. Ketika berhaji, misalnya, kita rayu Tuhan dengan meresapi makna setiap rukun, lalu berusaha merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Jika tidak mampu demikian, Habib Husein menamainya ‘traveling bersyariah’ yang sekadar berjalan-jalan ke Makkah dan saat pulang bangga dengan titel haji yang disandangnya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan