Darah Sabilillah

“Kiai, kalau boleh saya sarankan lebih baik Kiai mengamankan diri ke pulau Jawa saja. Ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Di sana Kiai akan aman bersama Kiai As’ad,” nasihat Kiai Bahar kepada Kiai Sajjad di suatu pagi.

“Maaf Kiai, saya tidak bisa seperti itu. Saya tidak ingin mengamankan diri, sementara santri dan rakyat di bawah tekanan penjajah. Hidup mulia atau mati syahid. Lebih baik saya mati daripada meninggalkan Madura,” Kiai Sajjad menolak saran Kiai Bahar.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Empat bulan berlalu. Kiai Sajjad mengajak para santri yang mengiringinya kembali ke Annuqayah. Menjelang ashar kami sampai di Annuqayah. Kedatangan Kiai Sajjad disambut hangat oleh masyarakat Guluk-Guluk. Mereka datang berduyun-duyun ke Annuqayah dan salat ashar berjamaah dengan diimami beliau. Kala itu suasana menjadi begitu tentram dan damai. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung dalam hitungan jam. Seusai salat maghrib, tiba-tiba tentara Belanda datang dan meminta Kiai Sajjad datang ke Pasar Kemisan Guluk-Guluk.

Baca Juga:   Lelaki yang Tersiksa Rindu dan Dendam

“Kiai, abdina ngirengah Ajunan (saya ingin bersamamu, Kiai),” kataku pada Kiai.

Tak usa jhek, Cong (tidak usah, Nak). Hidup dan mati adalah kuasa Allah. Jangan kau mengira orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapatkan rezeki,” tutur Kiai Sajjad kemudian.

Baca Juga:   TUGAS SEKOLAH

Sesampai di markas Belanda, apa yang dikhawatirkan masyarakat dan para santri benar-benar terjadi. Belanda berbuat curang. Ternyata beliau hendak dieksekusi. Sebelum eksekusi dilakukan, KH Abdullah Sajjad meminta waktu menunaikan salat sunnah. Pihak Belanda mengabulkan permintaan beliau. Namun, lagi-lagi penjajah berbuat curang. Saat Kiai Sajjad khusyuk dalam salat, tiga peluru serdadu Belanda menembus dada beliau. Tak terelakkan tubuh Kiai Sajjad tersungkur dalam sujud. Darahnya tumpah menjadi sajadah.

Tinggalkan Balasan