Darah Sabilillah

“Mari kita kobarkan semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan! Jangan sampai kemerdekaan yang sudah kita genggam kembali direbut oleh penjajah,” tutur KH Abdullah Sajjad malam itu mengobarkan semangat kami.

Dalam hati kecilku berkata dan bertekad, hidup ini akan kugunakan untuk mengusir penjajah dari persada Nusantara. Karena aku tak ingin ada lagi Syahid-Syahid lain yang kehilangan ibunya di ujung senapan Belanda.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

***

Awal Juni,1947

Setelah 350 tahun Belanda menjajah Indonesia, mereka tak juga puas mengeksploitasi kekayaan rakyat Indonesia. Proklamasi yang sudah dibacakan oleh Bung Karno pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tak menjadi penghalang bagi negeri orange untuk kembali menjajah. Tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) datang kembali ke Indonesia membonceng pasukan Sekutu.

Baca Juga:   Di Bawah Pohon Beringin

Pertengahan Juni 1947, wilayah Surabaya, Malang, Pasuruan, termasuk Madura, menjadi incaran pertama pasukan penjajah. Malam itu Kiai mengumpulkan para santri untuk menyusun strategi.

“Kita harus selalu siaga. Para penjajah kapan saja bisa datang kemari. Madura termasuk salah satu incaran pertama mereka. Jangan sampai kita lengah. Saat ini mereka sudah sampai di Pamekasan. Untuk itu, saya akan menugaskan sebagian dari kalian untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Pamekasan,” tutur Kiai kala itu dan menunjuk KH Khazin Ilyas menjadi komando pasukan melawan Belanda di Pamekasan. Namun, aku tak terpilih untuk berjuang bersama beliau.

Baca Juga:   Senja di Kuburan Bapak

“Kiai, saya mohon, izinkan saya ikut berjuang bersama Kiai,” ucapku kepada KH Khazin Ilyas dengan nada setengah memohon.

Kiai Khazin Ilyas menghela napas sembari tersenyum. Senyum yang sulit kuartikan.

“Apakah kau yakin mau ikut? Kita ke sana hendak berperang. Bukan sekadar jalan-jalan. Nyawa taruhannya. Kita tak pernah tahu kembali ke sini dalam keadaan hidup atau mati,” Kiai Khazin Ilyas menanyakan tekadku.

Tinggalkan Balasan