Darah Sabilillah

Petang menjelang. Matahari hendak kembali ke peraduannya. Dengan diliputi rasa lelah dan takut yang mengecam, kami tertidur di bawah pohon siwalan.

“Nak, bangun sudah hampir maghrib. Kita belum salat ashar,” kata Emak sembari menggoyang tubuhku. “Ayo, kita cari air untuk berwudhu!”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Belum sepenuhnya aku sadar dari tidurku, kulangkahkan kaki mengikuti ke mana Emak pergi. Beberapa saat kemudian kami berdua pun menemukan mata air untuk berwudhu.

“Silakan Emak duluan! Biar aku berjaga di sini.”

“Baiklah, kau tunggu di sini!” kemudian Emak turun.

Pikiranku tak tenang. Rasa takut masih menggelayut. Dalam hati aku hanya bisa berdoa dibalut harapan, semoga para penjajah tak lagi datang. Pandanganku mengitari semak belukar di sekitar.

Baca Juga:   Senja di Kuburan Bapak

Sedetik kemudian. Duarrr. Terdengar suara tembakan.

Tak pernah terbayang, peluru senapan itu mendarat di dada Emak yang kusayang.

“Emak… Emak… jangan tinggalkan Syahid!” kuhampiri Emak yang sudah tak lagi menghirup udara pulau garam. Kupeluk tubuh Emak yang bersimbah darah. Penjajah biadab. Tak berperikemanusiaan.

Di hadapan jenazah Emak, aku berjanji akan membalas semua ini. Selama napas melekat di jiwa, dengan segala usaha akan mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini.

Maka, sepeninggal Emak aku mengabdikan diri di sebuah pesantren yang terletak di Kecamatan Ujung Barat, Kabupaten Sumenep. Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep yang menjadi pilihanku menempa diri. Di sana aku belajar banyak hal. Mulai dari ilmu agama sampai ilmu bela diri. Juga ilmu untuk membela bangsa dan negara di bawah asuhan KH Abdullah Sajjad.

Baca Juga:   Tentang Anak Kita

***

Guluk-Guluk, 1947

Bulan tersenyum, menjadi penerang saat aku dan ribuan santri lainnya dilatih secara fisik dan digembleng secara rohani untuk menjadi laskar Sabilillah. Sebuah laskar yang didirikan oleh guru KH Abdullah Sajjad, yakni Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari.

Tinggalkan Balasan