Dakwah di Jalan Stoikisme

130 kali dibaca

Katakanlah stoikisme mengajari kita untuk tidak larut dalam kesedihan, masa bodoh pada stigma, tidak ikut campur urusan orang, serta love self sebagai yang paling penting. Sehingga pertanyaannya adalah: “Apa amar makruf nahi mungkar akan disfungsi?”

Memang terbayang dan masuk akal jika tren stoa ini di masa depan akan menjadikan dakwah tidak sebagaimana biasa kita jumpai di acara-acara masyarakat, kajian, dan lainnya. Jika, peduli akan buruknya akhirat orang lain justru nanti akan menjadi pelanggaran etika? Atau, barangkali kekhawatiran itu hanya alibi dari pembiakan dakwah yang marah?

Advertisements

Justru stoikisme bagi saya dapat meminimalisasi pembiakan ekstremis dan radikalis agama. Bahkan, eksistensinya di tengah muda mudi akan mendorong diterapkannya asas-asas moderasi.

Tentu dengan beberapa hal. Pertama, dengan tidak menilai stoikisme sebagai ajaran berbahaya. Sebab, sikap indifferent stoa itu ditujukan untuk membatasi hasrat, emosi negatif, dan keputusan yang tidak logis, bukan semata-mata kebebasan liar meski bertumpu pada hukum alam sebagai tatanan logisnya (ERL. Tinambunan 2014: 33).

Seorang stoik akan cuek dengan kekacauan dan fokus melanjutkan hidup, sebab pikiran dan tindakan orang lain merupakan bagian dari tatanan semesta yang berada di luar kuasanya (Yosef Bilyarto, 2022: 69-71). Hal ini terlihat berseberangan dengan ayat-ayat dakwah dalam QS. Ali Imran [3]:104, QS. An-Nahl [16]125 dan lainya.

Demikian didasari oleh orientasi akhir hidup yang memang beda. Seorang stoik mengejar kebajikan sampai mati, tapi peduli akan kesan akhir dari hidupnya (Henry Manampiring, 2019: 276). Sedangkan, seorang muslim mengejar kebajikan, juga untuk kondisi sesudah mati, termasuk rasa tanggung jawab akan akhir hidup saudara muslimnya.

Justru, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana stoikisme mampu membentuk perilaku positif, tanpa saling mengoreksi satu-sama lain. Misalnya, pada dikotomi kontrol tersebut, yakni kesadaran pada apa yang mampu dan tidak bisa ia lakukan. Sehingga hal kedua yang perlu dilakukan adalah berhenti memaksakan diri dengan menyadari keterbatasan.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan