“Dahsyatullah”, Artikulasi Islami di Tengah Kepengapan Arabisasi

443 kali dibaca

“Dahsyatullah”, begitu fasih meluncur dari mulut sebagian anak muda NU beberapa tahun silam. Secara harfiah kata idhafah itu tak berbunyi, meski masing-masing terdiri atas “dahsyat” dan “Allah” yang, sebagai kata, mempunyai arti sendiri-sendiri. Melihat konteks di mana kata itu diluncurkan, ia sepertinya untuk menyatakan sesuatu yang mengagumkan, menakjubkan, dan, dengan demikian, menunjuk pada sesuatu yang hebat atau dihebatkan.

Kaum puritan bisa mengajukan protes: itu mengotori atau mendistorsi nama Tuhan, menisbatkan “yang tidak semestinya” kepada Allah yang Agung. Bukankah ungkapan-ungkapan seperti subhana Allah, ajiebul Allah, masya Allah (semua dengan ekspresi kekaguman) sangat familier dan diakui sebagai ekspresi hamba mengagumi setiap ayat-ayat Allah. Bukan hanya karena sempurna dari bahasa Arab, ungkapan-ungkapan itu berasal dan dikutip dari tebaran teks suci, al-Quran. Bukankah “dahsyat” berasal dari ungkapan non-Arab yang biasa diperkarakan ketika dikaitkan dengan asma Allah atau dianggap kurang sah dikaitkan dengan berbagai idiom dan simbol Islam.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Dahsyatullah” memang tidak lazim dan tentu tidak melekat di lidah kebanyakan muslim, meski tidak berarti haram diucapkan. Pasalnya, karena kebanyakan kaum muslim telanjur biasa, merasa srek, dan meyakini bahwa kalau bukan Arab tidak afdhal bahkan mungkin tidak sah. Tuhan begitu lengket dengan Arab, dan meng-Arab-kan nama Tuhan itu seolah legitimed secara teologis.

Pengakuan Mbah Gani di Ponorogo,“Kulo niki mboten shalat, kranten mboten saget Arab lho, Mas” (saya ini tidak salat karena tidak bisa bahasa Arab, Mas) menunjukkan Arabisme Islam sangat dominan. Demikian pula keluhan Pak Kromo dari Wonogiri yang mengaku tak bisa berdoa hanya lantaran tak pandai mengucapkan kalimat Arab.

Haruskah semua itu serba Arab, dan kalau tidak, menjadi tak sah, menjadi tak legitimed? Boleh jadi, muncul dan tersebarnya “Dahsyatullah” itu justru karena kepengapan di tengah Arabisasi. Arabisasi dan Arabisme nama-nama Tuhan dan setiap aspek ajaran Islam oleh kaum puritan, kaum salafi, dan kaum modernis Islam seperti yang kita saksikan selama ini justru menjadikan penyapaan Tuhan dan artikulasi religius memasuki ruang sempit dan menyudut. Jika salat dan berdoa (sebenarnya keduanya berarti sama) adalah perjumpaan dan persapaan seorang hamba dengan Tuhannya yang terakui, maka baik Mbah Gani maupun Pak Kromo menjadi tak mungkin melakukan kontak religius.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan