duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

“Dahsyatullah”, Artikulasi Islami di Tengah Kepengapan Arabisasi

“Dahsyatullah”, begitu fasih meluncur dari mulut sebagian anak muda NU beberapa tahun silam. Secara harfiah kata idhafah itu tak berbunyi, meski masing-masing terdiri atas “dahsyat” dan “Allah” yang, sebagai kata, mempunyai arti sendiri-sendiri. Melihat konteks di mana kata itu diluncurkan, ia sepertinya untuk menyatakan sesuatu yang mengagumkan, menakjubkan, dan, dengan demikian, menunjuk pada sesuatu yang hebat atau dihebatkan.

Baca Juga:   Pulang Mondok, 5 Santri Indramayu ODP Corona

Kaum puritan bisa mengajukan protes: itu mengotori atau mendistorsi nama Tuhan, menisbatkan “yang tidak semestinya” kepada Allah yang Agung. Bukankah ungkapan-ungkapan seperti subhana Allah, ajiebul Allah, masya Allah (semua dengan ekspresi kekaguman) sangat familier dan diakui sebagai ekspresi hamba mengagumi setiap ayat-ayat Allah. Bukan hanya karena sempurna dari bahasa Arab, ungkapan-ungkapan itu berasal dan dikutip dari tebaran teks suci, al-Quran. Bukankah “dahsyat” berasal dari ungkapan non-Arab yang biasa diperkarakan ketika dikaitkan dengan asma Allah atau dianggap kurang sah dikaitkan dengan berbagai idiom dan simbol Islam.

Advertisements
Cak Tarno

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Baca Juga:   Perempuan, Seni, dan Pesantren

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan