Corona dan Siapa Kita

Melalui Sampar, dengan gamblang Albert Camus menggambarkan karakter-karakter asli manusia ketika menghadapi absurditas hidup. Terbit pada 1947 dalam bahasa Prancis dengan judul La Peste, novel ini mengisahkan bagaimana Oran, sebuah kota yang tenang, tiba-tiba berubah menjadi kuburan masal setelah sampar mewabah.

Semua bermula ketika seekor tikus tergeletak mati di jalanan. Membusuk. Ah, cuma seekor tikus mati. Namun, ketika hari-hari berikutnya semakin banyak tikus mati bergeletakan di jalanan, warga Oran mulai bertanya-tanya. Cemas. Dan, kecemasan berubah menjadi horor ketika tidak ada lagi tikus yang mati, namun gejala pembengkakan bernanah mulai menjangkiti tubuh-tubuh warga kota. Rupanya itu gejala yang mengantar maut. Wabah itu, pes, terus menyerang dengan ganas, hingga mengakibatkan lebih dari 100 kematian setiap hari.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Yang pertama terbaca dari Sampar adalah ini: manusia seringkali abai pada isyarat, pertanda, gejala. (Ah, toh cuma seekor tikus yang mati. Tapi dari sanalah kemudian semuanya bermula). Hewan biasanya justru lebih peka terhadap pertanda alam ketimbang makhluk berakal yang bernama manusia.

Baca Juga:   Refleksi Diri: Pemberani dan Pecundang

Yang selanjutnya terbaca dari Sampar adalah ini: drama! Wabah selalu berubah menjadi panggung drama, terutama bagi manusia-manusia pemain watak. Dalam panggung drama Sampar, warga Oran adalah penonton yang pasif, pasrah, tak berdaya. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu giliran. Giliran untuk dikucilkan, dikarantina. Giliran untuk ditumpuk, ditimbun bertindihan bersama mayat-mayat lain dalam kuburan masal.

Tapi tidak demikian dengan para pemain wataknya: ada Dokter Bernard Rieux yang tetap tekun bekerja tapi tidak lagi untuk mengobati dan menyembuhkan, melainkan sekadar mendiagnosa —stempel bagi setiap orang untuk dikarantina; ada Rambert, wartawan oportunis yang memanfaatkan posisinya untuk bisa kabur dari Oran yang lockdown; tentu saja ada pastor Paneloux yang membuat horor kian mencekam melalui khutbah-khutbahnya yang menyebut bahwa pandemi adalah murka Tuhan atas kota yang bergelimang dosa. Dan bintang panggungnya adalah para politisi, dengan atau tanpa nama, yang membuat semakin kusut keadaan, hingga Oran benar-benar menjadi kota mati.

Tinggalkan Balasan