duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Beragama Tanpa Akhlak

Saya masih sering teringat akan guru-guru saya dulu, dulu sekali; guru-guru saya di madrasah atau di langgar-langgar. Guru-guru saya itu mendidik kami dengan cara-cara sederhana, dengan contoh-contoh sederhana.

Baca Juga:   Artefakisasi Sejarah Cermin Hegemoni Pengetahuan

Misalnya, saat melihat ada kerikil berserak, atau seonggok batu, atau sebatang kayu melintang di tengah jalan, saya diminta memungut dan menyingkirkannya. Agar orang yang lalu setelahmu tidak diterantuk, tersandung, atau keserimpet dan jatuh. Dan itu akan melapangkan jalan orang lain setelahmu. Begitu pesan guru-guru saya.

Advertisements
Cak Tarno

Atau jika sedang berjalan, lalu berpapasan dengan atau melintasi orang yang lebih tua, kami diminta tersenyum, membungkuk, dan memberi salam. Begitulah cara guru-guru saya dalam mendidik kami bersikap hormat dan menghargai orang lain, terutama yang lebih tua. Ketika sedang berbicara dengan orang lain pun, kami dilarang bersuara lebih nyaring dari lawan bicara, lebih-lebih jika lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua.

Baca Juga:   Jabar, Provinsi Pertama yang Lahirkan Perda Pesantren

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan