Ale, Ikan, dan Kehilangan

1,398 kali dibaca

“Ayah, apakah ikan punya agama?”

“Mengapa begitu?”

Advertisements

“Jika ia mati, pada siapa ia akan kembali?”

“Kamu terlalu kecil untuk berpikir sedalam itu.”

“Aku hanya takut ia kesepian dan mati sia-sia.”

“Kenapa harus sia-sia?”

Keresahan menimbun kepala Ale yang masih berumur empat tahun. Tahun depan ia akan masuk TK. Tapi kami masih ragu, pentingkah pendidikan TK bagi anak kami? Mertuaku kadang mendesak untuk membawa Ale ke sekolah yang didesain khusus bagi balita. Kecukupan finansial yang melimpah bukan alasan bagi mereka untuk tidak memanjakan cucu semata wayangnya. Beruntung, istriku bisa menjawab kegelisahan mertuaku dengan baik dan benar.

Sengaja kami tak membawa dia ke PAUD atau RA yang menawarkan banyak metode agar anak kami bisa belajar dengan bahagia. Selain untuk menghemat uang kas keluarga kecil kami, keputusan itu kami ambil karena kami tak ingin kehilangan banyak momen bersama Ale. Kami ingin Ale belajar langsung dari kehidupan kami yang tidak sempurna. Kami ingin Ale mengenal ketidaksempurnaan. Ale tidak seharusnys didoktrin dengan kebahagiaan hakiki yang ia dapatkan dari kisah-kisah heroik yang terdapat dalam teks sesuai kuriukulum sekolah. Kebahagian ideal yang dirancang untuk memenjara hasrat bahagia itu sendiri. Ale harus sadar, bahwa bahagia adalah penyatuan rasa atas kesadaran untuk menerima dari segala ketidaksempurnaan.

Ale mulai banyak bicara. Protes kecil sudah biasa ia sampaikan. Aku bersyukur karena Tuhan berikan ia kebebasan untuk berpikir dan berpendapat sedini mungkin. Tingkah nakal anak kecil juga tidak jarang nampak dari segala keusilannya. Kami saling bercerita tentang banyak kisah, tentang keberhasilan, kegagalan, dan semangat pantang menyerah. Bahkan, Ale yang belum memiliki banyak kisah hidup mulai bercerita tentang segala hal yang dia alami. Tentang pertemuannya dengan serangga maupun cacing di kebun belakang. Tentang daun pisang yang ia gunakan sebagai mainan. Dia bercerita dengan detail apa yang terjadi dan ia rasakan. Ale cukup cerdas untuk mendeskripsikan sesuatu.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan