duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Al Ittifaq, Dulu Pondok Kolot Kini Milenial

96 kali dibaca

Al-Ittifaq, pondok pesantren yang berada di Bandung, bertransformasi dari sistem pendidikan yang kolot ke milenial. Al-Ittifaq kini menjadi salah satu pesantren modern yang jadi pusat pengembangan agroindustri.

Didirikan pada 1934 di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rabcabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Al-Ittifaq adalah tipikal pondok pesantren pada zamannya. Didirikan oleh KH Mansyur yang memiliki jiwa nasonalisme tinggi dan sangat anti-penjajah, pesantren yang berada di ketinggian Bandung bagian selatan ini benar-benar menerapkan sistem pendidikan yang dari kaca mata kekinian terbilang sangat kolot.

Sebagai pesantren salafiah, pada tahun-tahun awal pesantren ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama yang bersumber dari al-Quran, Kadits, dan kitab-kitab kuning (kutubus salafiyah) belaka. Bahkan, KH Mansyur mengharamkan santri menulis dengan huruf latin. Hal-hal yang berbau atau menjadi symbol modernitas juga diharamkan. Santri tidak boleh menggunakan alat-alat dan produk elektronik seperti mic, radio, televisi, dan semacamnya. Bahkan, santri juga dilarang kenal atau memiliki hubungan dengan pejabat pemerintah. Mereka masih dianggap sebagai antek penjajah.

Baca Juga:   Warsa Kuasa Cinta

Ketika KH Mansyur wafat pada 1953, kepemimpinan diteruskan putranya, H Rifai. Dia meneruskan sistem pendidikan yang diwariskan KH Mansyur. Dengan kekolotannya, plus letaknya yang berada di daerah terpencil, keberadaan Pondok Pesantren Al-Ittifaq pun terkucil dan terasing. Wajar jika kemudian perkembangan pesantren ini sangat lamban. Hingga H Rifai meninggal pada 1970, jumlah santri yang mondok di pesantren tak lebih dari 30-an orang.

Transformasi “Sayuriah”

 

Adalah KH Fuad Affandi yang kemudian melakukan perubahan. Dipercaya mengambil alih kepemimpinan pesantren di usia 22 tahun, jiwa muda Fuad Affandi tak sabar melihat pertumbuhan pesantrennya yang sangat lamban. Ia menginginkan segera ada perubahan dan kemajuan.

Baca Juga:   Fiqih Disabilitas, Memanusiakan Manusia

Meskipun masih mempertahankan sistem salaf, di bawah kepemimpinan KH Fuad Affandi, pesantren ini mulai mengenalkan sistem pendidikan modern dan pendidikan nonagama. Perubahan pun dimulai dari lingkungan terdekat dan potensi di sekitarnya. Kiai Fuad melihat, lingkungan di sekitar pesantren berada memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai lahan agroindustri. Sementara, masyarakat setempat mayoritas masih terkungkung oleh kemiskinan. Kondisi inilah yang mendorong Kiai Fuad untuk memasukkan pendidikan Teknik dan keterampilan pertanian di pesantrennya.

Laman: 1 2

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan