Aku dan Pesantrenku (2): Menemu Makna Istikomah

Pondok Pesantren Mambaus Sholihin berada di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kalau Anda berangkat dari luar kota dan transit di surabaya, berangkatlah ke terminal antar-kota di daerah Osowilangun, lalu turun di Terminal Bunder. Dari Terminal Bunder, kalau Anda melihat pertigaan, menyeberanglah dan naik angkot warna oranye yang sedang mangkal mencari penumpang, lalu minta turun di pondok. Itulah satu-satunya angkot yang sibuk, mondar-mandir mengantarkan santri Suci ke luar wilayah pondok menuju ke arah mana saja, entah ke rumah Sakit Semen, ke Pasar Gresik, atau “kabur” ke mal-mal di Surabaya.

Meskipun paham jalan sekaligus angkot apa saja yang harus dinaiki, sejak belasan tahun lamanya di pesantren, alhamdulillah saya termasuk orang yang tidak berani kabur. Terdengar membosankan, memang, menjadi terlalu penurut dan taat peraturan. Mungkin itu yang dilihat teman seangkatan saya sejak duduk di bangku madrasah tsanawiyah karena mereka sebelumnya tidak melihat bagaimana perjalanan saya lima tahun ke belakang. Saya sudah menghabiskan masa bermain-main dan kabur sejak madrasah ibtidaiyah di pesantren, maka saya memilih serius belajar ketika duduk di bangku madrasah tsanawiyah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tahun 1998, ketika saya duduk di madrasah ibtidaiyah, pesantren putra maupun putri masih dalam tahap pembangunan lantai 2. Dan santrinya sudah terhitung sangat banyak waktu itu. Meskipun bangunan keduanya tidak terlihat dari jalan raya karena masuk gang kampung, rupanya keberadaan pesantren ini menarik hati ayah saya yang hampir setiap hari melewatinya untuk bekerja.

Baca Juga:   Aku dan Pesantrenku (8): Merevolusi Kehidupan

Saya ingat betul bagaimana ayah meyakini bahwa beberapa tahun ke depan nanti pasti pesantren ini menjadi pesantren besar dan dikenal banyak orang (dan itu terbukti). Bukan hanya karena tempatnya yang strategis, tetapi juga pandangan ayah terhadap kiainya, Kiai Masbuhin Faqih yang dikenal alim dan tawadhu. Kiai Masbuhin Faqih lulusan Pesantren Langitan dan Pesantren Gontor. Mengetahui perpaduan dari keduanya tentu sangat menggembirakan ayah kala itu, salaf sekaligus modern. Pesantren inilah yang akhirnya menjadi tempat saya menghabiskan seluruh waktu sekolah hingga lulus menuju perguruan tinggi.

2 Replies to “Aku dan Pesantrenku (2): Menemu Makna Istikomah”

Tinggalkan Balasan