Imajinasi Arsitektur Masjid Perumahan

Baik Bekasi maupun Cirebon, keduanya sama-sama mengalami ‘pengimajisian ulang’ karena adanya ‘reset’ di tahun 1970-1980 yang diprakarsai oleh kekuatan ekonomi dan kekuatan Islam transnasional.

Implikasinya, ada fragmentasi imajinasi umat Islam dalam membayangkan tempat ibadahnya. Fragmentasi itu utamanya disekat oleh pergumulan antara kekuatan modal dan kekuatan budaya pop Islam di wilayah-wilayah urban. Kerinduan akan tanah Arab dibawa dan diartikulasikan ulang di tengah-tengah kompleks kota dan perumahan. Sepertinya bertujuan untuk menggugah perasaan khusyuk, tetapi pada saat yang sama juga mengindikasikan kesalehan sosial dan akumulasi kapital pada kepekatan tertentu di suatu daerah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sekat itu juga terjadi di Cirebon, tetapi pengaruh perubahan administrasi wilayah dari masa kesultanan hingga masa modern juga menjadi sekat tambahan. Berbeda dengan Bekasi yang fragmentasinya cenderung agak dikotomis antara kampung kota dan perumahan, di Cirebon, distribusi imajinasi itu tersekat dalam tiga wilayah, yakni wilayah eks-pemerintahan kesultanan, wilayah pemerintahan modern, dan wilayah daerah (ex-gemeente).

Baca Juga:   Pesantren sebagai Miniatur Keindonesiaan

Uraian di atas sepertinya dapat menjawab “kenapa bangunan masjid sekarang lebih kearab-araban, meski lingkungan sekitarnya perumahan modern?” Tetapi itu baru setengah menjawab “apa yang diimajinasikan umat Islam atas tempat ibadahnya?” Faktor-faktor penyebab munculnya imajinasi itu memang sudah dijelaskan, tetapi kita masih belum tau ke mana prospek imajinasi itu? Apakah umat Islam adalah umat yang spontan dalam persoalan imajinasi? Spontan dalam artian, hanya membayangkan apa yang terjadi hari ini dan sekarang (here and now)?

Baca Juga:   Bagaimana Menjemput Hidayah

Kiranya menarik jika membedah masjid-masjid berarsitektur Timur Tengah itu melalui kacamata Cultural Studies. Apakah kompleksitas ornamen geometri, hangatnya lampu ala Masjidil Haram, gymsum barok, dan kuba menjulang, dan lantai marmer lebih merupakan manifestasi keunggulan budaya Islam? Atau semata keunggulan sumber daya ekonomi yang terbatas pada kemampuan membeli bahan-bahan produksi industri yang seakan-akan mendatangkan ‘Arab’ di tengah perumahan modern?

Tinggalkan Balasan