Imajinasi Arsitektur Masjid Perumahan

Adapun gaya modern-minimalis, biasanya diterapkan karena dua kemungkinan sebab. Pertama, karena merupakan ‘paket desain’ dari developer perumahan. Atau yang kedua, karena ingin mencocokkan arsitektur masjid dengan lingkungan sekitar. Alasan yang kedua biasanya terjadi jika masjid yang hendak dibangun berada dekat dengan pusat perbelanjaan yang umumnya memiliki fasad modern-minimalis.

Apa yang terjadi di Bekasi, jelas berbeda dengan yang terjadi di Cirebon. Sebagai eks-kota kosmopolit yang memuat dinamika etnis (Arab, Cina, Pribumi), mudah untuk menemukan masjid dengan arsitektur sinkretis di Cirebon. Unsur Tionghoa, Arab, Hindu, dan bahkan Indie (kolonial) kadang saling bercampur. Di kota Cirebon, kombinasi antara Tionghoa, Arab, dan Hindu dapat ditemukan di masjid-masjid di area eks-pusat kesultanan, seperti misalnya Masjid Panjunan, Masjid Jagabayan, dan Mushola Pangeran Panjunan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Di eks-wilayah gemeente di Cirebon, seperti Trusmi, Tegalgubug, dan Gegesik, masjid dengan arsitektur putih kotak, beratap limas susun, dan bermenara, mudah ditemukan. Entah dari mana imajinasi arsitektur ini berasal, apakah murni perkembangan imajinasi masyarakat pribumi pada awal abad ke-20? Atau merupakan kombinasi dari pengaruh gaya arsitektur Masjid Demak dan gaya arsitektur kolonial? Namun sepertinya asumsi yang kedua lebih meyakinkan sepintas.

Baca Juga:   Memahami Hujah Puasa Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Baru kemudian masjid-masjid kontemporer yang direncanakan sebagai ‘ikon’ kota yang umumnya dibangun di area pusat pemerintahan Cirebon modern, mulai menunjukkan arsitektur Timur Tengah dengan nuansa puritan. Di Cirebon, imajinasi Timur Tengah ini membeku dalam Masjid At-Taqwa, bersebelahan dengan rumah dinas bupati. Daerah sepersejarahan Cirebon, Indramayu, juga menunjukkan hal serupa melalui Islamic Center-nya.

Baca Juga:   Ambigu Relasi Agama-Negara dan Implikasinya

Apa yang terjadi di Cirebon dan Indramayu menimbulkan tanda tanya, mengapa daerah dengan akar sejarah dan kebudayaan yang kuat justru mengadopsi arsitektur Timur Tengah untuk masjid ‘ikon’ kotanya? Bukankah ini ‘agak membelakangi’ akar sejarah suatu masyarakat tertentu? Atau, hal ini merupakan indikasi dari sesuatu yang sama sekali lain?

Tinggalkan Balasan