Imajinasi Arsitektur Masjid Perumahan

Kalau sempat memerhatikan prasasti yang menempel pada tembok masjid, biasanya akan ditemukan: masjid-masjid berbentuk kotak putih dan bermenara umumnya dibangun pada periode 1970-1980an. Periode ini merupakan periode mapannya masyarakat pasca-kemerdekaan yang ditandai oleh kemakmuran ekonomi, stabilitas sosial, dan lain-lain. Tetapi, imajinasi kolonial dan imajinasi kenusantaraan ala Wali Songo masih cukup kuat. Khususnya di area-area kampung.

Pemilik otoritas sosial, arsitek, dan masyarakat yang menginginkan masjid, masih terbayang oleh atap-limas, tiang penyangga berjumlah empat, lima atau bahkan sembilan, dan desain masjid kotak putih berserambi. Hal ini juga bisa dipahami karena kuatnya pengaruh tradisionalisme pesantren di desa-desa yang akarnya terhubung ke era Wali Songo.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Di saat yang sama, periode 1970-1980 juga merupakan periode ‘kebangkitan Islam dan ekonomi’. Di kota-kota besar, mulai diselenggarakan halaqoh dan liqa yang merupakan bibit awal bagi konservatisme Islam pasca tahun 2000.

Baca Juga:   Lelucon yang Tak Lucu

Dan bila memerhatikan prasasti masjid-masjid bergaya Timur Tengah, biasanya merupakan masjid yang dibangun di periode tahun 2008 ke atas. Tahun ini adalah tahun di mana audiens halaqoh dan liqa telah berada pada posisi dewasa mapan. Mereka berhasil menempati ruang-ruang strategis, baik secara geografis (perumahan, kompleks, kota) maupun sosial (birokrat, pengusaha, Pak RT, dll). Artinya, mereka punya cukup kohesi sosial untuk melegitimasi suatu bentuk imajinasi tertentu.

Secara ekonomi, mereka berhasil menggapai posisi ekonomi kelas menengah. Dan di saat yang sama, mereka juga menjadi ‘produk’ dari arus budaya pop Islam yang mulai subur pasca tahun 1990an. Sejak tahun itu, budaya pop Islam mulai berkembang hingga dapat dikategorisasi menjadi tiga kiblat, yakni aliran Arab Saudi, aliran Turki, dan aliran Iran.

Baca Juga:   Jejak Sejarah Gerakan Wahabi-Salafi

Di antara tiga aliran itu, imajinasi Arab Saudi dan Turki adalah yang paling berpengaruh. Dengan kata lain, basis keagamaan yang diperoleh dari halaqoh dan liqa semasa muda dulu, kini bisa diperkuat oleh imajinasi-imajinasi pop tentang bangunan Arab dan Turki yang diperoleh dari film, iklan, dan sejenisnya.

Tinggalkan Balasan