Warsa Kuasa Cinta

1.520 kali dibaca

Tahun baru sepatutnya ajang kelahiran ulang semua orang. Bunyi bel dan terompet malam pergantian menandai ritus peralihan: mengeluarkan yang buruk ke masa lalu, memasukkan yang baik ke masa depan.

Dalam menyikapi yang lama dan yang baru, ada dua jenis kebebalan yang harus dihindari. Seseorang berkata, “Ini tua, oleh karena itu bagus.” Yang lain menukas, “Ini muda, oleh karena itu lebih baik.” Padahal, esensinya bukanlah yang tua atau yang muda, melainkan kebaikan apa yang didapat dari yang lama dan yang baru. Dalam mengarungi masa depan, sikap terbaik adalah “mempertahankan warisan masa lalu yang baik, seraya mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Advertisements

Centang-perenang Indonesia terjadi karena reformasi melalui trayek sesat: mempertahankan yang buruk, membuang yang baik. Tradisi korupsi lebih giat dipertahankan, tetapi tradisi pelayanan publik lebih malas dikembangkan. Kepedulian kuasa lebih diarahkan untuk mempertahankan kekuasaan dengan kiat korupsi, kolusi, dan nepotisme yang lebih bebal, ketimbang mengembangkan nilai-nilai baru pemerintahan yang baik dan bersih.

Baca juga:   Mengembalikan Marwah Pesantren di Masyarakat

Luput dari keinsyafan, bahwa nilai kehidupan tidaklah ditentukan oleh tahun-tahun dalam kehidupan kita, melainkan oleh kehidupan kita dalam tahun-tahun itu. Bukan berapa lama kita berkuasa, melainkan nilai apa yang kita berikan selama berkuasa. Sebaik-baiknya kekuasaan adalah semakin lama berkuasa, makin banyak kebaikan yang ditanam; seburuk-buruknya kekuasaan adalah semakin lama berkuasa, makin banyak keburukan yang ditinggalkan.

Baca juga:   Santri Literacy in Media Evolution

Pangkal keburukan kekuasaan bermula ketika orang lebih terobsesi “cinta kekuasaan” (the love of power) ketimbang “kekuasaan untuk mencintai” (the power to love). Krisis kenegaraan di negeri ini terjadi karena jagad politik lebih didekap oleh orang-orang yang mencintai kekuasaan ketimbang kekuasaan untuk mencintai.

Dalam krisis yang membutuhkan kekuasaan yang lebih bertanggung jawab pada kebaikan hidup bersama, para pemimpin justru lebih mencintai kekuasaan yang melayani kepentingannya sendiri. Demi kekuasaan yang melayani diri sendiri itu, elite negeri tak segan menjerumuskan rakyat ke dalam kobaran api permusuhan antaridentitas yang membakar rumah kebangsaan menjadi puing-puing kesumat.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan