Turun Gunung

422 kali dibaca

Saya langsung teringat sebuah buku yang sudah agak lama tersimpan rapi di lemari. Musababnya adalah ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa dirinya harus turun gunung.

SBY yang pernah menjadi presiden selama 10 tahun ini mengaku mengetahui, bahwa Pemilihan Umum yang baru akan dilaksanakan pada 2024 itu akan berlangsung secara tidak jujur dan tidak adil. Karena itu SBY harus turun gunung untuk membereskan situasi.

Advertisements

Pernyataan SBY tersebut disampaikan dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat di Jakarta pada Kamis, 15 September 2022. Pernyataan SBY itu kemudian diunggah di akun Tiktok @demokrat.sumut, lalu dikutip sejumlah media massa.

Pada bagian awal pernyataannya, SBY mengungkap alasannya kenapa ia merasa harus turun gunung. “Saya harus turun gunung menghadapi Pemilu 2024. Saya mendengar, mengetahui, bahwa ada tanda-tanda Pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil.”

Baca juga:   Melawan Hoaks dengan Literasi

“Tanda-tanda” yang dimaksud oleh SBY tersebut adalah, konon, adanya skenario agar hanya ada dua pasangan calon presiden-wakil presiden pada Pemilu 2024. Skenario ini ditenggarai untuk menjegal partai-partai oposisi agar tidak bisa mengajukan calon presiden-wakil presiden.

“Jahat bukan? Menginjak-injak hak rakyat bukan? Pikiran seperti itu batil. Itu bukan hak mereka. Pemilu adalah hak rakyat, hak untuk memilih dan dipilih…,” demikian kutipan dari pernyataan SBY tersebut.

Apakah pelaksanaan Pemilu yang baru akan berlangsung dua tahun lagi, yaitu pada 2024, bisa dinilai hari ini? Apakah jika hanya ada dua pasangan calon presiden-wakil presiden berarti inkonstitusional dan batil? Bukankah pada pemilu-pemilu sebelumnya juga pernah hanya ada dua pasangan calon presiden-wakil presiden? Bukankah semua partai memang dibentuk untuk berebut kekuasaan, dan untuk itu antarpartai politik harus selalu siap beradu strategi dan skenario?

Baca juga:   Berpikir Komputasi*

Tulisan ini tak berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tulisan ini hanya ingin menempatkan pernyataan-pernyataan SBY tersebut dalam konteks penyelenggaraan demokrasi dalam sebuah negara demokratis. Itulah kenapa, begitu membaca pernyataan-pernyataan SBY tersebut, saya langsung teringat sebuah buku yang sudah agak lama tersimpan di lemari.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan