Tugu Bayangan

2.142 kali dibaca

Sebuah cerita kadang tak perlu masuk akal. Toh, adakalanya yang tak masuk akal justru menjadi awal dari babakan sejarah. Cerita ini salah satunya.

***

Advertisements

Desa itu akhirnya diberi nama Tugu Bayangan karena keganjilannya. Semua bermula dari apa yang terjadi di sebuah jalan setapak. Jalan setapak itu membelah ladang dan sawah, sejak dari ujung sebuah dusun terpencil di sisi Utara, yang sesekali berkelok-kelok hingga berakhir di sisi Selatan di batas luar hutan Alas Purwo. Jika musim kemarau, jalan tanah itu akan memamerkan banyak rekahan yang menganga. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, ia akan menjadi jalan berlumpur.

Jalan setapak itu biasa dilintasi orang-orang yang hendak bercocok tanam di ladang atau di sawah. Lebih dari itu, jalan setapak itu juga menjadi jalan masuk ke kedalaman hutan bagi orang-orang dusun yang hendak sekadar mencari kayu bakar, atau memotong pohon-pohon jati untuk mendirikan rumah, atau mencari batang-batang bambu untuk membuat gedek, atau berburu bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan liar, atau mencari belalang kayu untuk digoreng sebagai hidangan makan.

Baca juga:   Sepatu Maradona dan Kaus Kaki Anakku

Hari itu, Paimin yang berjalan cepat menuju hutan hendak mencari kayu bakar tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika sudah mencapai lebih dari separo jalan. Matanya membelalak menatap apa yang tersuguh di depannya. Sebuah bayang-bayang, tentu saja berwarna hitam. Ia mengira entah ada sebuah benda atau binatang atau orang di depannya. Tapi, ketika matanya menyapu ke sekeliling arah, Paimin tak menemukan apa-apa, tak melihat siapa-siapa. Begitu pula ketika ia mendongak ke atas, yang terlihat hanya kekosongan. Kecuali Matahari di kejauhan sana yang menatap tajam dirinya.

Baca juga:   Pengakuan Sebatang Pohon Pisang

Ketika ia kembali mendaratkan pandangan matanya pada jalan di depannya, bayang-bayang itu masih berada di tempatnya semula, seakan memotong jalan setapak itu. Ia jongkok, lalu tangannya meraba bayang-bayang hitam yang terhampar di jalan itu. Hanya ada tanah yang tertutup bayang-bayang itu. Tak ada benda lain. Ia melihat tangannya yang gemetar, sebagian lengannya ikut tertutup bayang-bayang itu. Lalu ia mendongak lagi, masih suwung.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan