Beragama Lebih Bermakna Karena Ilmu

1.627 kali dibaca

Karunia akal yang diberikan Tuhan menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Secara khusus, akal diperuntukkan guna berpikir menggali ilmu-Nya. Bukan hanya sebagai penentu pilihan benar-salah, tetapi untuk keberlangsungan hidup dan menjadi manusia seutuhnya. Ini merupakan fitrah dari Tuhan. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, diperintahkan oleh Tuhan untuk memperoleh pengetahuan menimba ilmu.

Melalui buku Islam Santuy ala Gus Baha (2020) ini, pembaca dapat melihat paradigma keilmuan Gus Baha yang luas sekaligus luwes. Meskipun beliau hanya lulusan ijazah pesantren, akan tetapi kecerdasannya tidak kalah dengan kalangan akademisi (hlm 3). Gus Baha seringkali menjadi rujukan ketika membahas suatu permasalahan, dan hasilnya diramu menjadi kajian yang ilmiah.

Advertisements

Gus Baha dikenal sebagai ulama fanatik ilmu. Ia selalu mengatakan kepada seluruh santrinya, jemaahnya untuk selalu belajar sebagai thalibul ‘ilm. BerIlmu merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar pegangan setiap manusia. Dengan punya basis keluasan Ilmu, ia akan melahirkan sikap kemampuan yang luwes, fleksibel dalam membedakan yang benar dari yang salah, yang indah dari yang jelek, yang wajib dari yang sunnah, dan yang manusiawi dari sikap yang tidak manusiawi.

Baca juga:   Mengenal Kurikulum Pesantren

Dalam praksis persoalan fikih ibadah, Gus Baha mengingatkan untuk selalu memperhatikan aspek sosial dan dimensi solidaritas di sekitarnya. Artinya, kita dituntut untuk memahami perasaan senasibnya manusia secara umum. Karena bagaimanapun, sebagai agama yang diturunkan kepada umat manusia, seluruh tata aturan ibadah dalam Islam pasti memperhatikan sisi kemanusiaan manusia (hlm 26).

Baca juga:   Ilmu Membaca Watak Manusia

Jadi, misalnya ketika konteks salat berjamaah dan ditunjuk jadi imam salat. Maka, lihatlah kondisi para makmum. Kalau misal berada di jam istirahat kerja, maka bacaan suratnya tidak perlu panjang. Jangan sampai malah tergerus haddun nafsi, menampilkan sikap riya’ dengan membaca suratan panjang.

Peristiwa pembacaan surat-surat panjang, persis seperti yang dialami sahabat Muadz bin Jabal ketika menjadi imam salat. Ketika salatnya terlalu lama, ada sahabat lain yang mufaroqoh. Walhasil, dua-duanya melapor ke Rasulullah Saw, dan hal tak terduga, justru Muadz yang dimarahi oleh kanjeng Nabi. “Kamu kalau salat jangan lama-lama, bisa merusak Islam! Nanti akhirnya tidak senang salat karena kelamaan….”

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan